Sistem dan Pola Tanam Gaharu

Pertanianku – Dalam menanam tanaman penghasil gaharu, ada sistem dan pola yang bisa diterapkan. Berikut adalah beberapa sistem pola tanam dalam membina potensi tegakan pohon produksi gaharu yang disesuaikan dengan kondisi kawasan dan lahan.

Usaha Budidaya Gaharu

 

Loading...
  1. Kawasan hutan produksi

Pada kawasan hutan produksi yang telah dimiliki oleh kalangan pengusaha hutan (HPH), secara teknis dapat diprogramkan dalam pola pengelolaan hutan bekas tebangan (log over area). Di sana, dapat dilakukan pembinaan tanaman penghasil kayu dan penghasil gaharu. Misalnya pohon penghasil gaharu pada kondisi Etat Tebang setelah 2 tahun (ET + 2) dengan menanami lahan kosong atau lahan bekas pengumpulan kayu (TPK) atau bekas base camp pekerja. Sistem penanaman dapat dilakukan secara swadana pengusaha atau berkolaborasi dengan masyarakat sekitar dalam bentuk program HPH Bina Desa Hutan, PHBM, atau Hutan Rakyat.

  1. Monokultur (HTI)

Sistem penanaman gaharu memungkinkan untuk dapat dilaksanakan secara monokultur dalam bentuk Hutan Tanaman Industri (HTI) atau dalam bentuk perkebunan besar (estate). Untuk membentuk kawasan kebun gaharu secara monokultur, diperlukan manajemen dengan sistem investasi yang terencana matang serta memperhatikan berbagai aspek manajemen perusahaan. Selain itu, harus didukung pula oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang profesional, serta sarana dan prasarana yang memadai.

  1. Hutan campuran

Pengembangan sistem dan pola tanam gaharu juga dapat diaplikasikan dalam bentuk hutan campuran dengan memanfaatkan lahan hutan produksi (HP) atau Hutan Tanaman Industri (HTI). Pola penanamannya dapat berupa tanaman sela atau tanaman tumpangsari dalam memanfaatkan lahan dan ruang antarjarak tanam.

  1. Hutan rakyat

Pada kawasan hutan rakyat dengan berbagai jenis tumbuhan penghasil kayu, buah-buahan, atau tanaman perkebunan seperti kelapa, karet, kelapa sawit, di dalamnya dapat pula ditanam tanaman penghasil gaharu. Fungsinya bisa sebagai tanaman pengisi, tanaman sela, tanaman tepi, atau tanaman tumpangsari. Tanaman penghasil gaharu dapat pula terdiferensiasi dengan berbagai jenis tanaman pertanian atau perkebunan, antara lain campuran antara tanaman pangan (garut, padi gogo, sayuran, dan jagung), tanaman industri (nilam, lada, dan kopi), tanaman obat dan empon-empon (jahe, kencur, kunyit, dan kumis kucing).

  1. Lahan perkebunan
Baca Juga:  Menanam Pohon Jabon Mendatangkan Banyak Keuntungan

Pada lahan-lahan perkebunan seperti karet, kelapa sawit, kelapa, kopi, dan cokelat, secara teknis dapat dipola secara diversifikatif. Bisa sebagai tanaman sela, tanaman tepi, atau tanaman tumpangsari dengan tanaman gaharu dalam kapasitas tertentu yang dapat menjadi nilai tambah. Pola penanaman tanaman penghasil gaharu pada perkebunan karet optimal dilakukan pada umur ≥ 5 tahun, sedangkan pada areal kebun kelapa antara 5—7 tahun, dan pada areal kelapa sawit ideal dikembangkan setelah lima tahun.

 

Sumber: Buku Budidaya dan Bisnis Gaharu

Loading...
Loading...