Soal Sambal, Indonesia Harus Berterima Kasih pada Amerika Selatan


    PertaniankuSoal sambal, orang Indonesia harus berterima kasih pada Amerika Selatan. Pasalnya, sambal di Indonesia yang mengandalkan cabai rawit, varian dari keluarga Capsicum, adalah tanaman asli Amerika Selatan. Para pelaut Spanyol dan Portugis membawa bibit cabai ke Nusantara pada abad ke-16.

    Soal sambal
    Foto: Shutterstock

    Sejak saat itu, perkembangan sambal di Indonesia semakin meluas. Beragam jenis sambal menjadi olahan masakan yang wajib ada di meja makan tiap daerah. Sebut saja sambal dabu-dabu, sambal cibiuk, sambal oncom, sambal pecel, sambal tauco, dan sambal tumpang.

    Dengan berbagai kreasi, sambal juga menjadi lauk bukan lagi teman makan seperti sambal goreng hati ampela dan makanan lainnya. Tingkat kepedasan sambal pun kini tersedia berbagai level.

    Efek sambal yang membuat lidah panas akibat rasa pedasnya, menjadi perdebatan. Sebab, hanya ada lima rasa yang dicecap lidah manusia, yaitu manis, asam, pahit, asin, dan umami. Namun, beberapa ilmuwan menyebutkan bahwa sebenarnya lidah manusia bisa mencecap rasa keenam.

    Satu yang pasti, rasa pedas berlebihan tak hanya membakar, tapi juga bisa menyiksa. Ada beberapa kejadian akibat rasa pedas cabai yang berlebih, salah satunya seseorang pernah dibawa ke Unit Gawat Darurat karena menyantap cabai terpedas di dunia, carolina reaper.

    Sejak 2013, rekor cabai terpedas di dunia memang dipegang oleh cabai yang awalnya dibudidayakan di Rock Hill, Carolina Selatan ini. Cabai ini punya SHU (Scoville Heat Unit, skala yang jadi panduan tingkat kepedasan) 2,2 juta dan masih memegang rekor dunia. Sebagai perbandingan, SHU cabai rawit hanya 100.000—225.000.

    Baca Juga:  Cara Paling Efektif Konsumsi Alpukat untuk Ibu Hamil