Spageti Sagu, Potensi Bahan Pangan Berdaya Saing Global

Pertanianku — Spageti sudah menjadi kudapan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Spageti umumnya dibuat dari campuran tepung hingga dibentuk menjadi pasta spageti. Kini, Badan Litbang Pertanian sudah mengembangkan spageti sagu, yaitu spageti yang dibuat dari pati sagu.

spageti sagu
foto: pixabay

Dilansir dari laman Kementerian Pertanian Badan Litbang Pertanian, upaya yang tengah dilakukan oleh Balitbangtan bertujuan menaikkan pamor pati sagu yang sebenarnya berpotensi untuk dijadikan bahan pangan sehingga memiliki daya saing yang menjanjikan di pasar global.

Upaya ini juga dibuat oleh Balitbangtan setelah mengamati pertumbuhan jumlah penduduk dunia, meningkatnya kesadaran hidup sehat, dan perubahan iklim yang tengah dirasakan. Alasan Balitbangtan membuat spageti sagu adalah spageti merupakan makanan yang berasal dari luar negeri dan sudah lama dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pemasaran spageti ini bisa menjangkau segmentasi yang lebih luas, yaitu masyarakat Indonesia dan luar negeri.

Loading...

Spageti sagu menggunakan formulasi yang terbuat dari pati sagu dan komposisi pangan sumber protein, seperti tepung tempe, tepung telor, atau tepung hidrosilat protein ikan. Untuk memperindah penampilan, adonan spageti ditambahkan dengan pewarna alami dari ekstrak buah merah, serbuk coklat, atau charcoal. Seluruh bahan tersebut diproses menggunakan teknologi ekstrusi yang dilakukan secara hati-hati.

Spageti ini bisa berwarna-warni, bergantung pada pewarna yang digunakan, seperti warna putih, merah, atau hitam. Panjang dari pasta spageti ini sekitar 15 cm dengan diameter 1—2 mm. Pembeli nantinya bisa mendapatkan produk ini dalam bentuk segar ataupun yang sudah dikeringkan. Untuk mendapatkan tekstur lembut dan elastis, spageti perlu direhidrasi selama 8—10 menit.

Dilihat dari komposisinya, spageti sagu mengandung karbohidrat aktif terutama pati resisten yang mampu membantu tubuh untuk mencegah timbulnya penyakit degeneratif seperti kanker kolon, dan mengendalikan respons glikemik dengan andal.

Baca Juga:  Inspirasi Resep Rumahan, Salad Daging Asap dan Bunga Kol

Spageti ini juga sangat baik untuk tubuh karena tidak mengandung gluten sehingga bisa dikonsumsi oleh mereka yang sedang menjalani program diet atau penyakit celiac, gluten intolerance, dan gluten sensitive.

Keunikan lainnya dari spageti ini adalah penggunaan tepung tempe sehingga membuat spageti sagu menjadi ciri khas Indonesia banget. Produksi ini nantinya dirancang untuk memenuhi segmen pelanggan hotel, restoran, kafe, dan rumah tangga.

Loading...
Loading...