Stabilitas Harga Jagung Terancam Karena Panen Melimpah

PertaniankuStabilitas harga jagung terancam setelah beberapa daerah di Indonesia tengah memasuki panen raya. Kabupaten Lamongan, Tuban, dan Blora tercatat tengah mengalami panen untuk Pulau Jawa. Begitu pula wilayah lain di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi juga mengalami panen melimpah.

Stabilitas harga jagung
Foto: Pixabay

“Kita tidak bisa pungkiri adanya kekhawatiran pada petani jagung. Panen melimpah seperti ini berpotensi membuat harga jagung anjlok,” ungkap Kuntoro Boga Andri, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan) dikutip dari pertanian.go.id, Selasa (5/3).

Panen jagung yang melimpah ini, menurut Kuntoro Boga Andri, perlu diantisipasi secara saksama. Sejauh ini Kementan terus melakukan koordinasi dengan Bulog untuk mendorong penyerapan jagung di tingkat petani.


Loading...

Mengacu kepada Peraturan Kementerian Perdagangan (Permendag) Nomor 58 Tahun 2018 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen, harga pembelian pemerintah (HPP) untuk komoditas jagung senilai Rp3.150 per kilogram.

Bulog diharapkan siap dan siaga menyerap gabah dan jagung agar harga tetap stabil. Panen raya kali ini, Perum Bulog mulai menyerap jagung petani sebanyak 110 ton. Bulog Divisi Regional (Divre) Lampung menyerap sebanyak 11 ton, dan Bulog subdrive Bojonegoro sebanyak 100 ton.

Menurut Aijun Ansol Siregar, Sekretaris Perum Bulog, penyerapan ini dalam rangka menghadapi puncak panen raya pada Februari—Maret 2019. Selain itu, Aijun juga mengungkapkan dalam waktu yang terpisah, hal ini harus dilakukan untuk menjaga keseimbangan petani jagung, peternak unggas, dan industri pakan.

Tetap mengacu pada Permendag 58/2018, pembelian jagung oleh Bulog dilakukan melalui skema komersial. Hal ini agar harga beli jagung di atas HPP yang ditetapkan dan merupakan bentuk dukungan pemerintah terhadap petani jagung.

Baca Juga:  Mangga Melimpah dari Nusa Tenggara Barat

Presiden Jokowi sempat mengungkapkan bahwa pada panen raya kali ini terdapat peluang ekspor bagi Indonesia. “Kalau produksi tinggi tapi tidak bisa ekspor, harganya akan jatuh,” ungkapnya saat menghadiri panen raya di Gorontalo, Jumat (1/3).

Produksi jagung terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Data ini berdasarkan data Kementan. Mulai dari 2015, produksi jagung nasional mencapai 19,61 juta ton, 23,58 juta ton, 28,92 juta ton, dan 2018 melonjak hingga menembus 30 juta ton.

Sebanyak 550 ribu ton ditargetkan akan diekspor tahun ini dari total produksi 33 juta ton tahun ini. Kementan akan terus memaksimalkan program yang telah berhasil dijalankan seperti intensifikasi lahan dengan benih unggul gratis dan ekstensifikasi lahan dengan sistem tumpangsari.

Modernisasi pertanian juga dilakukan dengan menggunakan alat mesin pertanian (alsintan) untuk menunjang produksi jagung 2019.

Loading...
Loading...