Sukses Budidaya Jamur Tiram dengan Growbox Jamur


Pertanianku – Baru-baru ini seorang pengusaha asal Bandung, Jawa Barat bernama Aldi mencoba berbisnis jamur dengan media yang tak biasa. Media tersebut adalah growbox. Namun, untuk mengembangkannya perlu teknik yang tepat. Jika Anda mengembangkannya dengan benar, hasilnya pun tidak main-main dan berkali-kali lipat dari modal awal yang dikeluarkan.

Growbox adalah sebuah kotak sederhana berisikan bibit jamur tiram yang bisa dibudidayakan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Kita dapat merasakan pengalaman baru untuk memiliki pertanian jamur kecil sendiri.

Tidak begitu sulit untuk mulai membudidayakannya di rumah, hanya perlu ketekunan dan ketelatenan dalam merawat tumbuhan ini. Limbah serbuk kayu yang bisa digunakan sebagai media tanam growbox, biasanya diperoleh dari limbah industri kayu.

“Kami tidak menggunakan bahan kimia buatan agar menghasilkan jamur yang organik,” kata Aldi.

Lalu, bagaimana cara untuk membudidayakannya? Berikut penjelasannya.

  1. Sterilisasi

Kemasan plastik sebagai media tanam (baglog) disterilisasi dengan uap air bertekanan, untuk mengurangi kontaminasi dengan jamur atau mikroba lainnya.

  1. Pengepakan Baglog

Serbuk kayu dicampur dengan dedak, kapur, dalam kemasan plastik (baglog).

  1. Pembibitan

Setelah steril, masukan bibit jamur tiram, kemudian inkubasi selama 1 bulan. Setelah baglog menjadi warna putih, masukan ke dalam boks untuk dibudidayakan oleh konsumen.

Setelah berada di tangan konsumen, jangan lupa buka segel growbox hingga terlihat baglog berisikan bibit jamur berwarna putih. Letakkan di tempat teduh, jangan terkena sinar matahari langsung.

Sayat baglog jamur hingga plastik terbuka, dengan begitu jamur dapat tumbuh karena adanya asupan oksigen. Semprot baglog setiap hari dengan air biasa, hal ini agar kondisi baglog tetap lembap. Jamur akan tumbuh setelah 2—4 minggu baglog disayat.

Baca Juga:  Hubungan Agrowisata dan Era Revolusi Industri 4.0