Tak Cuma Indah, Manfaat Tabebuya Ternyata Ampuh untuk Kesehatan

Pertanianku — Kota Surabaya menjadi semakin terkenal dengan kehadiran pohon bunga tabebuya yang disebut-sebut sebagai sakuranya Indonesia. Namun, tak hanya indah menghiasi jalan-jalan di Kota Surabaya, manfaat tabebuya juga ternyata baik untuk kesehatan.

manfaat tabebuya
Foto: Google Image

Pohon dengan banyak cabang dan juga bunga lebat ini memang akan melindungi diri dari paparan sinar matahari langsung dan juga bisa menjadi bagian dari pupuk tanah. Mengutip Science Direct, berbagai spesies dari bunga tabebuya ini sudah digunakan sejak zaman dulu di wilayah Amazon untuk mengobati berbagai penyakit. Beberapa di antaranya sifilis, demam, malaria, infeksi menular, sampai masalah pencernaan.

Webmd mencatat bahwa tanaman ini juga bisa membantu mengatasi anemia, arthritis, asma, infeksi kantung kemih dan prostat, bronkitis, diabetes, diare, eksim, psoriasis, dan lainnya. Mengutip Research Gate, Tabebuia rosea (nama Latin tabebuya) ini dikenal dengan taheebo, lapacho, pau d’arco, dan ipe roxo diklaim juga bisa membantu meredakan penyakit.

Untuk meredakan penyakit seperti demam, kulit kayu dan daun tabebuya bisa diseduh dan dijadikan teh. Menurut Gentry dalam penelitiannya A Synopsis of Bignoniaceae Ethnobotany and Economic Botany, teh tabebuya bisa membantu menurunkan demam. Hanya saja, sampai saat ini, belum ada banyak bukti yang menguatkan manfaat dan efektivitas tabebuya untuk kesehatan.

Pada 1960-an, klaim penggunaan tabebuya dalam uji klinis pengobatan kanker, terutama di Brazil membuat banyak orang melirik tanaman ini. Berbagai ekstrak dari kulit kayu dan batang kayu Tabebuia impetiginosa, T. rosea, dan T. serratifolia diolah menjadi berbagai produk termasuk makanan sehat.

Menurut penelitian, tanaman tabebuya ini juga memiliki banyak senyawa bioaktif seperti napthoquinones terutama lapachol dan beta-lapachone. Beta-lapachone ini sempat diajukan ke National Cancer Institute (NCI) pada 1970, namun akhirnya ditarik kembali karena tingkat toksisitasnya yang tidak bisa diterima. Sampai saat ini senyawa tersebut masih dalam uji klinis fase II di AS.

Baca Juga:  Mengenal Kemuning, Tanaman Asli Asia
Loading...