Tanaman Gewang, Endemik Asal NTT yang Multifungsi

Pertanianku Tanaman gewang (Corypha utan) merupakan tanaman endemik Nusa Tenggara Timur dan menjadi tanaman yang penting bagi masyarakat setempat. Gewang sejenis tanaman palem liar yang tumbuh subur di savana NTT. Meskipun liar, tanaman ini sering dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Seluruh bagian tanaman bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Bahkan, ada rumah gewang yang terbuat dari pohon gewang, mulai dari atap hingga dinding.

tanaman gewang
foto: http://balitka.litbang.pertanian.go.id/

Di NTT, batang tanaman digunakan untuk membuat tepung, sedangkan biji tanaman digunakan sebagai aksesoris atau sebagai penangkap ikan karena mengandung racun yang berbahaya ikan. Batang pohon juga bisa digunakan sebagai pakan bergizi tinggi untuk ternak babi yang dimiliki oleh masyarakat setempat.

Daun gewang digunakan sebagai tali dengan serat yang kuat sehingga sering dibuat menjadi anyaman seperti tikar, bakul, dan lumbung padi. Pelepah gewang sering digunakan untuk membuat dinding rumah, pagar, atau dijadikan bahan bakar.

Perbungaan gewang disadap oleh masyarakat untuk mendapatkan niranya. Nira gewang bisa diminum langsung atau diolah terlebih dahulu menjadi gula aer. Nira gewang juga sering difermentasi menjadi sopi dan laru, minuman fermentasi khas NTT. Gula aer, sopi, dan laru menjadi produk khas NTT yang sangat berpotensi untuk diterima oleh pasar.

Kandungan nira pada gula aer berpotensi untuk digunakan sebagai bahan dasar industri pembuatan minuman kemasan. Sementara itu, kandungan yang ada di dalam sopi dan laru bisa dijadikan contoh sebagai produk minuman industri anggur dan alkohol.

Tanaman liar ini sangat berpotensi untuk dikembangkan secara lebih luas lagi karena mengandung karbohidrat akarbilan yang tergolong tinggi. Kandungan tersebut berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan pangan baru seperti roti atau biskuit.

Baca Juga:  Tanaman Herbal untuk Asam Urat yang Sangat Mudah Ditemukan

Namun, kandungan tannin di dalam tanaman ini cukup tinggi, sekitar 6,4 persen. Kandungan tannin dapat berpengaruh terhadap rasa produk yang dihasilkan. Untuk menghindari hal tersebut, tanaman gewang perlu dilakukan detanisasi untuk mengurangi kandungan tannin.

Balai Penelitian Tanaman Palma telah mengumpulkan plasma nutfah gewang langsung dari NTT untuk program pemuliaan dan menganalisis karakter agronomi gewang.

Setelah dilakukan observasi, diketahui koefisien keragaman (KK) gewang cukup tinggi, kecuali pada karakter panjang tandan, berat tandan, dan jumlah anak tandan.