Teknik Pengendalian Penyakit Busuk Buah Kakao

Pertanianku Penyakit busuk buah kakao menjadi musuh utama para petani kakao karena langsung memengaruhi hasil produksi. Penyakit ini menyerang seluruh bagian tanaman, terutama pada buah yang masih muda dan sudah matang.

penyakit busuk buah kakao
foto: Pertanianku

Pengendalian penyakit dapat memberikan hasil positif apabila dilakukan secara terpadu dengan menerapkan penggunaan varietas unggul, teknik budidaya dan teknik pemangkasan yang benar, memusnahkan buah yang sakit, sanitasi kebun, menggunakan agen hayati dan fungisida nabati, menggunakan pestisida sintetik sesuai dengan aturan, serta melakukan pengamatan penyakit secara rutin.

Gejala penyakit busuk buah kakao diawali dengan bercak-bercak kecil yang muncul di bagian buah. Bercak tersebut berubah menjadi kehitaman dan meluas dengan cepat ke seluruh permukaan buah. Buah akan berubah menjadi kehitaman setelah berumur 14 hari, saat itu jaringan internal buah termasuk biji yang ada di dalamnya akan mengerut.

Buah yang sudah terinfeksi akan tampak diselubungi miselium berwarna putih. Miselium tadi akan semakin memadat seiring dengan berkembangnya penyakit. Di dalam miselium terdapat banyak spora yang bisa menyebar ke tanaman lain. Spora tersebut menyebar melalui percikan air hujan dan embusan angin yang mengenai buah.

Penyakit busuk ini juga bisa menginfeksi bagian batang, bantalan bunga, dan tunas air. Infeksi tersebut dapat menyebabkan penyakit kanker batang dan kematian mendadak.

Kondisi kelembapan yang tinggi menjadi salah satu pemicu perkembangan dan penyebaran penyakit yang terjadi lebih cepat.

Penyakit ini akan menyebabkan kerugian yang cukup besar karena hasil produksi dapat berkurang sebanyak 50 persen. Kerugian yang paling besar terjadi pada buah muda yang umumnya masih berumur 2 bulan sebelum matang. Selain itu, penyakit ini mengundang penyakit lain, seperti kanker batang, hawar daun pada tanaman dewasa dan bibit.

Baca Juga:  Sentuhan Teknologi Balitbangtan untuk Meningkatkan Potensi Labangka

Penyakit dapat dikendalikan dengan pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan agar terjadi keseimbangan antara suhu dan udara di dalam kebun. Buah yang sudah busuk dimusnahkan dengan cara dibenamkan ke dalam tanah, kemudian ditutup dengan tanah setebal 30 cm.

Anda juga bisa menggunakan jamur Trichoderma sp dengan dosis 200 gram/liter air untuk satu pohon. Sementara itu, pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan fungisida berbahan aktif tembaga (Cu), dosis yang dibutuhkan sekitar 0,15—2 gram Cu/pohon. Fungisida diaplikasikan sebanyak 1—2 minggu sekali.