Teknologi Budidaya Lahan Sawah Tanah Hujan Jadi Andalan di Sumba Barat Daya

Pertanianku — Mayoritas lahan sawah di Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan lahan sawah tadah hujan. Daerah ini terletak di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sekitar 85 persen masyarakat di pulau tersebut bekerja di sektor pertanian.

lahan sawah tadah hujan
foto: Pertanianku

Lahan sawah tadah hujan berada di daerah beriklim kering dengan curah hujan tahunan yang rendah, kurang dari 2.000 mm per tahun. Kawasan tersebut memiliki bulan basah selama 3–5 bulan per tahun. Namun, beberapa wilayah lahan kering sering kali hanya memiliki bulan basah 2 bulan per tahun.

Petani di kawasan tersebut sering kali menghadapi permasalahan yang memengaruhi produktivitas dan kualitas produksi, terlebih di tengah kondisi perubahan iklim. Umumnya, permasalahan tersebut disebabkan oleh kurangnya pengetahuan teknis budidaya, perawatan, dan pengendalian hama penyakit terpadu.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) melakukan bimbingan budidaya padi sawah tadah hujan.

Kegiatan bimbingan tersebut merupakan bagian dari kegiatan Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK). Kegiatan tersebut bertajuk “Pengembangan Teknologi Padi Sawah Tadah Hujan pada Daerah Iklim Kering”.

Kepala Puslitbangtan, Dr. Priatna Sasmita, menjelaskan, tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan petani dalam budidaya padi di lahan sawah tadah hujan.

“Adanya kegiatan ini diharapkan pengetahuan petani meningkat dalam penguasaan komponen teknologi budidaya padi, teknologi pascapanen, serta pemahaman agroindustri padi sawah tadah hujan,” jelas Priatna seperti dilansir dari laman litbang.pertanian.go.id.

Priatna melanjutkan, Balitbangtan juga telah mengembangkan varietas yang tahan terhadap kekeringan dan penyakit.

“Beberapa varietas padi yang dilepas oleh Balitbangtan untuk lahan sawah tadah hujan yang toleran terhadap kekeringan dan tahan penyakit blast, di antaranya yaitu Inpari 38 Tadah Hujan, Inpari 39 Tadah Hujan, dan Inpari 41 Tadah Hujan,” terangnya.

Baca Juga:  Ekspor Bumbu dan Rempah Asal Indonesia Naik 2,95 Persen

Pada kegiatan tersebut petani juga dikenalkan dengan teknologi pengelolaan hara terpadu untuk meningkatkan produksi padi di lahan sawah tadah hujan, teknologi panen air hujan, teknologi surjan, dan penerapan pola tanam untuk menyiasati kondisi curah hujan yang tidak menentu.