Teknologi, Kunci Kemajuan Pertanian Jepang

Pertanianku — Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia. Salah satunya, yaitu dengan memberikan bantuan di bidang teknologi pertanian. Dukungan ini merupakan hasil dari cerminan kemajuan pertanian Jepang yang mengacu pada teknologinya.

kemajuan pertanian Jepang
Foto: Ilustrasi petani Jepang menanam padi (Google Image)

Sejumlah program pemberdayaan petani pun dilaksanakan yang berdampak pada peningkatan penghasilan mereka. Hal ini disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) RI Amran Sulaiman di sela pertemuan menteri pertanian negara-negara G20 di Niigata, Jepang, melansir Republika, Sabtu (12/5).

Dalam sesi Kunjungan Lapang Amran Sulaiman bertandang ke lahan persawahan di 1475, Hirabara-Shi, Niigata-Ken untuk mendapatkan fact finding budidaya padi di Jepang. Petani padi di Jepang memang dikenal memiliki tingkat kesejahteraan yang memadai. Untuk menimba best practices yang diterapkan petani negeri Sakura, Pemerintah Indonesia setiap tahun mengirim para petani muda untuk program magang.

Mengunjungi dan mengamati lokasi persawahan padi Niigata, Menteri Pertanian menyaksikan derasnya aliran air irigasi pada saluran tersier yang terlihat asri. Menteri Pertanian berdialog dengan petani padi Masato Shuto didampingi petani muda yang magang pada Shuto, Ahmad Sri Maulana, pemuda tani asal Desa Kalibuntu, Pabedilan, Cirebon, perwakilan dari P4S Ikamaja Garut.

Dari dialog dengan petani terungkap, bahwa petani Jepang mendapatkan fasilitas yang sangat memadai dalam melakukan usaha taninya. Fasilitas pemerintah yang paling menonjol adalah tersedianya sarana input produksi yang memadai dan diserapnya hasil produksi oleh Japan Agriculture (JA), semacam koperasi pertanian di Jepang.

“Kami sudah full mekanisasi, daijin (Menteri). Mulai tanam sampai panen. Kami kesulitan tenaga kerja. Maka dari itu, kami menggunakan petani muda asal Indonesia. Maulana tinggal bersama kami. Sudah saya anggap keluarga. Dia bersemangat kerja dan kemampuan bahasa Jepangnya lebih bagus daripada Senpai-nya,” jelas Shuto.

Baca Juga:  8 Fintech Bidang Pertanian di Masa Kini (1)

Japan Agriculture memberi bantuan pembiayaan tanpa bunga untuk pembelian pupuk dan pestisida setara Rp13 juta per ha (Rp8 juta untuk pupuk dan Rp5 juta untuk pestisida). Untuk benih padi Japonica, petani menyediakan secara mandiri.

“Satu hektare berapa biayanya dan juga berapa kilo hasilnya? Dijual kemana dan berapa harganya?” tanya Amran penasaran.

“Produktivitas padi di sini rata-rata 4,3 ton gabah kering giling (GKG) per hektare dengan harga setara Rp30 ribu/kg yang semuanya ditampung oleh Japan Agriculture. Kami hanya simpan sedikit untuk kebutuhan konsumsi,” jawab Shuto.

Dengan begitu rata-rata petani padi Jepang mendapatkan penghasilan setara Rp130 juta per musim tanam. Pertanaman padi di Jepang hanya 1 kali selebihnya digunakan untuk usaha tani hortikultura.

Bercermin pada petani Jepang, petani padi Indonesia semestinya bisa sesejahtera petani Jepang mengingat produktivitas petani padi Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan petani Jepang, yaitu 5,2 ton GKG/ha dibanding 4,3 ton GKG/ha.

Faktor utama penentu tingginya pendapatan petani padi Jepang adalah harga gabahnya Rp30 ribu GKG/kg dibandingkan Indonesia yang Rp4.600 ribu GKG/kg. Semoga finding facts petani Jepang ini akan memperbaiki kesejahteraan petani Indonesia hari-hari mendatang.

Loading...