Teknologi Minakodal Mampu Mengefisiensikan Pupuk Hingga 70 Persen

Pertanianku — Pupuk menjadi salah satu kebutuhan pertanian yang harus dipenuhi untuk menyuplai kebutuhan unsur hara tanaman agar dapat tumbuh dengan optimal. Dalam penggunaannya, Anda harus benar-benar bijak karena jika tidak, pupuk yang diberikan tidak bekerja efektif dan justru malah memberatkan biaya produksi. Badan Litbang Pertanian mengenalkan teknologi mina padi kolam dalam atau minakodal.

minakodal
foto: kkp.go.id

Jika sebelumnya banyak petani yang menerapkan sistem pertanian monokultur—hanya menanam satu jenis tanaman dalam satu lahan, kini lahan tersebut didiversifikasi dengan teknologi minakodal untuk meningkatkan produktvitas lahan. Dengan begitu, petani dapat menghasilkan beberapa komoditas dalam satu lahan. Selain itu, teknologi tersebut juga bisa membuat dua komoditas yang dikembangbiakkan dalam satu lahan menjadi saling melengkapi.

Lahan yang diterapkan teknologi minakodal akan digunakan untuk menanam padi sekaligus memelihara ikan nila merah. Sebelum digunakan, lahan diberikan pupuk kimia ½ rekomendasi lahan sawah, pemupukan organik dengan takaran 2,5—3,0 ton/hektare, dan penambahan dolomit 1 ton/hektare. Pada bagian pinggiran galengan diberikan terpal yang ditutup dengan tanah untuk menjaga kondisi terpal tersebut agar bisa digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama.

Loading...

Varietas padi yang digunakan dalam teknologi minakodal adalah VUB padi Inpara 6 dan komponen teknologi jajar legowo 2:1 agar semua tanaman mendapatkan sinar matahari secara optimal. Benih ikan nila merah yang ditebar berukuran 7—9 cm. Untuk tiap 1 m2 lahan sawah, bisa ditebar 4 ekor benih. Pemeliharaannya dilakukan selama umur tanaman padi, tidak lebih dari 80 hari.

Teknologi ini terbukti dapat mengurangi kebutuhan pupuk hingga 70 persen. Hal tersebut dikarenakan kotoran ikan nila yang dihasilkan sudah bisa menjadi pupuk alami bagi tanaman dan tidak berbahaya untuk tanah. Selain itu, teknologi ini dapat meningkatkan produksi 20—30 persen hasil panen. Teknologi ini bisa menjadi solusi untuk ketahanan pangan yang baik.

Baca Juga:  KKP Salurkan Bantuan Benih Ikan Nila di Banda Aceh

Ikan yang dipelihara di lahan bisa memanfaatkan pakan alami atau hama yang berada di lahan sawah. Hal tersebut sangat membantu untuk mengurangi biaya pakan ikan dan pengendalian hama padi di sawah.

Untuk menerapkan teknologi tersebut, ada beberapa pertimbangan lahan yang harus diperhatikan terlebih dahulu, di antaranya pertimbangan aksesbilitas, agroekosistem lahan sawah, potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, titik ungkit inovasi, dan kondisi kelembagaan ekonomi petani setempat.

 

Loading...
Loading...