Terkendala Teknologi, Ini yang Dialami Pegiat UKM Kopi dan Ikan Nila


Pertanianku — Pegiat UKM kopi dan ikan nila di Banyuwangi dilaporkan masih terkendala keterbatasan teknologi proses produksi. Bukan hanya itu, kendala juga terjadi dari sisi manajemen pengelolaan usaha di bidang tersebut.

UKM kopi dan ikan
Foto: Pixabay

Melihat situasi tersebut, Dosen Jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Siti Asmaul Mustaniroh, mencoba melakukan pembinaan pegiat UKM Kopi dan Ikan Nila di Desa Kandangan, Banyuwangi sebagai daerah penyangga kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB).

Desa Kandangan di Banyuwangi sebelah timur merupakan salah satu daerah yang saat ini tengah gencar melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan konsep “Integrated Pertanian dan Perikanan”.

Menurut Asmaul, terdapat dua kelompok masyarakat produktif  integrasi pertanian dan perikanan di desa tersebut. Kelompok tersebut merupakan binaan dari TNMB sebagai solusi alternatif mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap lahan kawasan Meru Betiri. Dalam hal ini dialami oleh Kelompok Tani Kopi “Makmur Abadi” dan Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar “Wira Makmur”.

“Namun dalam pelaksanaannya kedua kelompok tersebut terkendala keterbatasan teknologi proses produksi dan manajemen pengelolaan usaha,” ujar Asmaul seperti dilansir Republika, Kamis (25/10).

Melalui program kemitraan masyarakat, Siti Asmaul Mustaniroh bersama Wahyu Endra dan Agustina Shinta H serta Jaya Mahar M. berupaya memberikan solusi tepat untuk kelompok ini.

Caranya, dengan berkolaborasi melalui bimtek proses perbaikan kualitas kopi bubuk. Kemudian juga dengan pelatihan pembenihan semibuatan dengan mencampurkan induk jantan dan betina yang matang gonad pada perbandingan 2:1 di kolam pemijahan.

Dari upaya tersebut, tim ternyata mampu meningkatkan kualitas kopi bubuk (formulasi kopi 30:70) dan kopi bubuk premium (100 persen biji kopi). Selain itu, tim juga memberikan bantuan mesin penepung ikan dan pembuat pakan berkapasitas produksi 50 sampai 100 kilogram per jam.

Baca Juga:  Cita Rasa Kopi Indonesia Buat Dunia Terkejut

Kemudian juga membantu pembuatan formulasi pakan untuk pembesaran lele usia antara 40 hari  sampai 90 hari. Pada pembinaannya, tim menjelaskan, kandungan protein pada pakan dapat dimodifikasi.

“Dengan menggunakan metode persegi empat Pearson’s serta bantuan Benih Nila Strain Prima  dengan ukuran 3—5 cm 10.000 ekor,” paparnya.

Dengan adanya kegiatan ini, Asmaul dan tim berharap dapat membantu meningkatkan aspek dalam kinerja indeks desa membangun. “Harapannya tiga aspek indeks desa membangun dapat kita optimalkan semua, dari sisi ekonomi, sosial dan ekologi,” ungkap dia.