Ternyata Begini Proses Pengolahan Tebu Menjadi Gula

Pertanianku — Untuk mendapatkan atau memproduksi gula yang siap dipasarkan dapat dilakukan beberapa tahap pengolahan tebu hingga akhirnya menjadi gula. Proses pengolahan tersebut sebagai berikut.

pengolahan tebu
Foto: Pixabay
  1. Proses penimbangan dan pengerjaan pendahuluan

Pada tahap yang pertama, yaitu menyiapkan tanaman tebu yang sudah dipanen dengan memilah-milah dan menentukan melalui kualitasnya maupun kuantitasnya. Kualitas tebu dapat meliputi kondisi fisik tanaman, tingkat kebersihan, dan potensi kandungan gula (rendemen) yang ada di dalamnya. Sementara, berdasarkan kuantitasnya, dapat dilihat dari jumlahnya dengan cara ditimbang terlebih dahulu.

  1. Penggilingan tebu (stasiun gilingan)

Pada stasiun gilingan ini dilakukan pemerasan tebu yang bertujuan mendapatkan nira atau sari tebu sebanyak-banyaknya. Tebu yang layak digiling adalah yang telah mencapai fase kemasakan, di mana rendemen batang tebu pada bagian pucuk mendekati rendemen bagian batang bawah, selain itu kebersihan tebu lebih dari 95%.

Setelah tebu tercecah, tebu tersebut berjalan ke stasiun gilingan dengan menggunakan cane elevator. Penggilingan dilakukan sebanyak 10 kali dengan menggunakan 5 unit gilingan.

  1. Pemurnian nira (stasiun pemurnian)

Pada proses pemurnian ini bertujuan menghilangkan kandungan kotoran dan bahan nonsugar atau bahan yang tidak termasuk gula, meliputi ion-ion organik dalam nira mentah tanpa merusak kualitas dan kandungannya. Pada umumnya, proses permurnian ini dapat dilakukan dengan menggunakan 2 cara, yaitu proses defikasi dan proses sulfitasi. Tujuan proses defikasi adalah  untuk membersihkan komponen-komponen bukan gula dan meningkatkan harkat kemurnian (HK).

  1. Penguapan nira (stasiun penguapan)

Tujuan dari penguapan ini, yaitu mengurangi kadar air yang terdapat pada nira encer agar diperoleh nira yang lebih kental. Penguapan dilakukan pada temperatur 65—110°C.

Proses penguapan (evaporasi) dilakukan dalam kondisi vakum dengan tujuan menghindari kerusakan sukrosa akibat suhu yang tinggi, menghemat penggunaan uap bahan bakar, dan menurunkan titik didih nira sehingga tidak terbentuk caramel. Selain itu, juga agar sukrosa yang terkandung dalam nira tidak mudah rusak.

Baca Juga:  Tak Disangka, Ini Manfaat Kulit Kakao Jika Diolah

Proses evaporasi tersebut dilakukan beberapa kali dengan menerapkan suhu dan tekanan yang berbeda. Pada evaporasi tahap awal menggunakan suhu tinggi dengan tekanan rendah. Ketika telah memasuki tahap evaporasi selanjutnya, suhu bertahap diturunkan dan tekanan bertahap dinaikkan.

  1. Kristalisasi (stasiun masakan)

Nira kental dari stasiun penguapan yang sudah dipucatkan (bleaching) masih mengandung air kurang lebih sekitar 35 persen—40 persen. Apabila kadar air lebih besar dari yang semestinya, pembentukan kristal akan lebih lama. Selanjutnya, pada stasiun ini dilakukan proses kristalisasi yang bertujuan menghasilkan kristal gula yang memiliki kemurnian tinggi serta sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan.

  1. Pemisahan (stasiun putaran)

Proses pemutaran atau pemisahan pada stasiun ini memiliki tujuan memisahkan antara kristal gula dan larutan yang masih menempel pada kristal gula.

  1. Pengeringan dan pendinginan

Pada stasiun ini, pertama dilakukan proses pengeringan gula dari stasiun putaran sampai gula benar-benar kering. Pengeringan dilakukan dengan cara menyemprotkan uap panas dengan suhu sekitar 70°C, kemudian langsung didinginkan kembali.

Tujuan dari pengeringan tersebut yakni untuk mencegah kerusakan gula akibat pertumbuhan mikroorganisme. Selain itu, juga agar gula lebih tahan lama. Setelah gula kering, kemudian dibawa melalui elevator dan disaring pada saringan vibrating screen. Sementara, gula halus dan kasar yang tidak memenuhi standar akan dilebur dan dimasak kembali.

Loading...