Ternyata Ini Fungsi Air Embung pada Budidaya Sayuran


Pertanianku – Budidaya sayuran di lahan tadah hujan umumnya hanya dipanen setahun sekali. Intensitas penggunaan tenaga kerja di lahan tadah hujan lebih tinggi karena petani harus menyiang (mencabut rumput) lebih sering dibandingkan lahan beririgasi, akibat suplai air yang tidak menentu.

Foto: pixabay

Lahan tadah hujan adalah lahan yang sistem pengairannya sangat mengandalkan curah hujan dan merupakan sumber daya fisik yang potensial untuk pengembangan pertanian seperti padi, palawija, dan tanaman holtikultura.

Pada lahan tadah hujan digunakan embung sebagai penampung air hujan. Embung merupakan water storage atau penampung air pada musim hujan dan air limpasan di lahan sawah tadah hujan yang berdrainase baik.

Kegunaan embung, yaitu menyediakan air untuk pengairan tanaman di musim kemarau, meningkatkan produktivitas lahan, intensitas tanam, pendapatan petani di lahan tadah hujan, mencegah/mengurangi luapan air di musim hujan, dan menekan risiko banjir.

Keberadaan air di embung dapat berasal dari curah hujan langsung dan air limpahan permukaan (run-off). Jumlah air penampungan dari curah hujan sekitar 30% dan dari limpahan permukaan sekitar 70% dari kapasitas tampungan embung.

Untuk mendapatkan air dari limpahan permukaan diperlukan daerah tangkapan hujan. Luas daerah tangkapan hujan bergantung pada koefisien limpahan permukaan dan ukuran embung atau kapasitas tampungan embung.

Penerapan konsep pertanian bio-industri ramah lingkungan berkelanjutan yang diterapkan oleh Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) sangat efektif untuk daerah lahan tadah hujan. Penggunaan bahan organik seperti bio-pestisida, bio-kompos (campuran dengan kompos dan biochar), Sludge (limbah cair kotoran sapi), serta pengairan dengan menggunakan embung, petani dapat membudidayakan tanaman hortikultura secara intensif.

Baca Juga:  Yuk, Konsumsi Jamur Saat Sarapan! Ini Manfaatnya
loading...
loading...