Ternyata Ini Penyebab Petani Tak Mau Tanam Bawang Putih

Pertanianku – Harga Bawang putih yang saat ini tengah bergejolak membuat Kementerian Pertanian RI (Kementan) tengah mendorong petani dan importir menanam bawang putih di dalam negeri. Langkah ini demi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bawang putih impor.

Direktur Utama PT Pertani, Wahyu, mengungkapkan bahwa ada sejumlah alasan yang membuat petani lokal enggan menanam bawang putih. Pertama, rendahnya minat dari pengusaha atau pedagang untuk membeli bawang dari petani lokal.

“Yang lalu saya sudah pelajari bahwa ketika petani, penangkar, ketika memproduksi benih bawang putih maka tidak ada pembelinya. Karena itu, sedikit sekali petani yang berminat menanam bawang putih,” katanya, seperti mengutip Liputan6 (24/5).

‎Selain itu, komoditas bawang putih yang dihasilkan petani di dalam negeri kalah saing dengan produk impor yang jumlahnya masif. Hal ini membuat petani beralih menanam sayuran lain yang tidak diimpor dan menguntungkan dari sisi harga jual.

Alasan berikutnya, ada juga persoalan benih bawang putih yang ternyata lebih mahal dibanding harga produk bawang putih yang dipanen petani. Hal ini lantaran benih bawang putih harus mendapatkan perlakuan khusus agar tidak rusak dan bisa dipanen.

“Pasti kan benihnya sendiri perlakuannya khusus, dari sisi pertanaman saja umur tanamnya harus dijamin umbinya sudah diisi, kemudian sertifikasi, penyimpanan sampai jadi bibit perlu perlakuan khusus. Sehingga otomatis kalau dibandingkan dengan benih konsumsi harganya lebih tinggi dari benih konsumsi. Itu wajar,” tambahnya.

Menurut Wahyu, harga benih bawang putih saat ini dijual dengan harga Rp30.000—Rp35.000 per kg. Sementara itu, harga bawang putih di tingkat petani hanya Rp25.000—Rp28.000 per kg.

“Kita selama ini sekitar Rp30.000 per kg. Kalau (bawang putih) konsumsi di tingkat petani Rp25.000—Rp28.000. Benih Rp30.000—Rp35.000. Itu kita jaga supaya tidak terlalu mahal dan memberatkan petani,” ungkapnya.

loading...
loading...