Terulang Lagi, Hiu Paus Terjerat Jaring Nelayang


Pertanianku Hiu paus terjerat jaring nelayan di Barat Daya Perairan Pulau Lemukutan, Kabupaten Bengkayang, Rabu (29/11). Ikan dengan nama latin Rhincodon typus ini kemudian tubuhnya dipotong-potong dan dijajakan di Pasar Penjajab Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Namun sebelum dikubur, terlebih dahulu sudah diambil sampel oleh dokter hewan dari WWF Indonesia, Kamis (30/11).

Hiu paus terjerat jaring nelayan
Pixabay

“Hiu paus itu terjerat alat penangkapan ikan tipe gillnet dan sudah dimusnahkan dengan cara dikubur seberat lebih kurang 600 kilogram,” kata Subagyo, Koordinator Satuan Pengawasan Sambas, Stasiun PSDKP Pontianak, dikutip dari Antaranews.com, Sabtu (2/12).

Marine Species Coordinator WWF Indonesia, drh Dwi Suprapti mengatakan, perairan laut Kalimantan Barat menjadi salah satu jalur migrasi hiu paus.

Hiu paus mempunyai ciri-ciri tubuh berwarna abu-abu dengan corak bulatan (totol) dan garis-garis yang berwarna putih/kuning. Memiliki kulit yang tebal dan pada bagian atas sisi tubuhnya terdapat guratan-guratan yang menonjol. Tubuhnya bisa seukuran kapal sedang.

drh Dwi mengungkapkan, sejak 2013 hingga 2017 ini, setidaknya ada lima kasus ikan hiu paus tertangkap tidak sengaja oleh jaring nelayan di perairan Kalbar. Ia juga menuturkan bahwa saat ini hiu paus berstatus dilindungi sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/2013.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa dari hasil surves, diketahui populasi hiu paus terbesar pertama di Indonesia berada di Nabire, Papua Barat dengan jumlah 128 individu. Selanjutnya disusul Talisayan, Kalimantan Timur dengan jumlah 36 individu. Kemudian perairan Probolinggo, Jawa Timur dengan jumlah 26 individu dan perairan Gorontalo teridentifikasi sejumlah 17 individu.

“Dengan penemuan hiu jenis ini di perairan Kalimantan Barat, bertambahlah catatan keragaman hayati spesies laut di sini,” ujar drh Dwi.

Baca Juga:  Di Panama, Semut dan Pohon Bersahabat

Monitoring dan penelitian hiu paus di Indonesia, sudah dimulai WWF sejak 2010. Diawali survei berkala yang melibatkan nelayan bagan di Wasior, hingga pemasangan Pop-up Satellite Archival Tag untuk merekam dan memantau pergerakan hiu ini.

Dilakukan juga pemasangan radio frequency identification untuk mengidentifikasi hiu paus secara permanen. Selain itu, ada pengambilan photo ID, studi keragaman genetika hiu ini di kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih, serta studi pengembangan kepariwisataan berbasis hiu paus.

loading...
loading...