Tingkatkan Ketahanan Pangan Keluarga Melalui Budikdamber dan Beternak Ayam di Kandang Portabel

Pertanianku— Pandemi membuat hampir seluruh orang harus berdiam diri di rumah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Pandemi tersebut juga menyebabkan gangguan ketahanan pangan keluarga yang bisa disebabkan oleh banyak faktor. Banyak instansi yang berusaha menguatkan ketahanan pangan keluarga dengan berbagai inovasi seperti budikdamber dan beternak ayam di kandang portabel.

ketahanan pangan keluarga
foto: pertanianku

Trubus Bina Swadaya bersama Bank BRI Microfinance Center (BMC) melaksanakan webinar untuk para UMKM yang bertajuk “Ketahanan Pangan Keluarga dalam Progam Plataran UMKM Edisi KPK” pada Rabu (4/8). Acara ini diselenggarakan melalui video conference Zoom secara gratis. Video webinar tersebut juga disiarkan secara live di channel YouTube Wirausaha Brilian.

Acara ini diikuti lebih kurang 400 peserta yang berasal dari UMKM binaan BRI Microfinance Center dan masyarakat umum. Acara ini diisi oleh Dr. Yudi Sastro, S.P., M.P., peneliti dan konsultan akuaponik serta Titut Wibisono S. Pt praktisi dan konsultan ternak ayam skala rumah tangga.

Loading...

Djoko Purwanto, EVP divisi Social Entrepreneurship and Incubation BRI, mengatakan inovasi ini bisa menjadi solusi yang tepat di tengah pandemi untuk masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.

“Apa yang kita tangkap ilmu ini pengetahuan dan keterampilan, nah kita implementasikan. Saya kemarin baca di artikel-artikel bahwa kegiatan-kegiatan budaya beternak ini bisa menyumbang pendapatan lho, bisa 5 sampai 50 persen dari pendapatan normal,” tutur Djoko.

Yudi Sastro memaparkan bahwa budidaya akuaponik di Indonesia masih jarang dilakukan untuk skala bisnis.

“Terus terang saja, di Indonesia akuaponik belum berkembang ke arah usaha, ini peluang besar. Karena apa? Akuaponik banyak dikembangkan di Indonesia. Saya sudah mengeluarkan dua model, tapi itu untuk skala pekarangan yang untuk mengatasi kebutuhan rumah tangga, tetapi untuk skala bisnis, Indonesia masih sangat terbuka,” papar Yudi.

Baca Juga:  Kementan Genjot Pemulihan Ekonomi Nasional Melalui Agroeduwisata

Budidaya ini sebenarnya bukan hal baru. Di Indonesia akuaponik lebih dikenal dengan nama minapadi (budidaya ikan di lahan sawah berbarengan dengan tanaman padi). Selanjutnya, akuaponik berkembang, dan kini dimodifikasi agar bisa digunakan oleh masyarakat perkotaan seperti budikdamber (budidaya ikan dalam ember).

Budikdamber merupakan cara budidaya ikan dan sayur dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah didapatkan, seperti ember dan gelas mineral yang diberikan lubang untuk tempat tumbuh tanaman sayur.

Di kesempatan yang sama, Titut menjelaskan sistem beternak ayam di pekarangan. Beternak ayam bisa dilakukan dengan menggunakan kandang umbaran portabel mini yang sangat sederhana, tidak membuat ayam tersiksa, tidak mengganggu tetangga karena kotoran dan bau kandang, serta bisa diletakkan di pekarangan rumah.

“Sebenarnya ide kandang umbaran portabel mini ini atau disingkat KUPM sudah banyak diterapkan oleh masyarakat Eropa. Karena memang masyarakat Eropa itu beda dengan masyarakat Indonesia yang ketika weekend itu, masyarakat Eropa itu lebih cenderung di rumah dan mereka lebih suka membuat kandang (ayam) sendiri,” jelas Titut.

Titut mengatakan, bahwa kandang umbaran tersebut bisa memuat hingga 3 ekor ayam kampung yang terdiri atas dua betina dan satu jantan. Kedua betina tersebut bisa menghasilkan telur yang bisa dijual sebagai penghasilan tambahan yang menjanjikan.

“Dan ini coba kita terapkan di Indonesia, dan kami dari tim ‘Bengkel Trubus’ mencoba membuatkan kandang umbaran portabel ini skala rumah tangga, sehingga kandang ini mudah diterapkan di perumahan,” lanjut Titut yang juga penulis buku Semua Bisa Beternak Ayam Kampung.

Permasalahan yang kerap dialami oleh para pembudidaya sayur, ikan, ataupun ayam adalah cara pemasaran. Yudi menjelaskan bahwa saat ini pemasaran sebenarnya sudah sangat mudah dengan menggunakan media sosial.

Baca Juga:  Penyakit Menular pada Kambing yang Wajib Diwaspadai

Selain menjual hasil panen langsung ke konsumen, Titut merekomendasikan para pembudidaya untuk mengolahnya lebih lanjut sehingga bernilai jual tinggi. Tentunya, menjual makanan olahan akan mendapatkan hasil yang lebih besar dibanding hanya menjual bahan mentah.

Tujuan dari pelatihan ini sendiri adalah untuk menguatkan ketahanan pangan keluarga dan usaha di tengah pandemi. Selain itu, memberikan wawasan dan pengetahuan teknis microfarming yang bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitas.

 

Loading...
Loading...