Tips Budidaya Cabai Rawit Agar Panen Setiap Hari


Pertanianku — Saat ini, komoditas pangan mengalami kenaikan harga, termasuk salah satunya cabai rawit. Salah satu penyebab dari kenaikan harga tersebut diketahui karena kurangnya pasokan cabai rawit dari petani. Nah, untuk bisa memenuhi kebutuhan tersebut, sebaiknya Anda memerhatikan tips budidaya cabai rawit agar hasil panen melimpah.

tips budidaya cabai rawit
Foto: Pixabay

Cabai rawit (Capsicum frutescens) merupakan tanaman dari Benua Amerika. Tanaman ini cocok dikembangkan di daerah tropis terutama sekitar khatulistiwa dan paling cocok ditanam di dataran rendah dengan ketinggian 0—500 m dpl. Meskipun begitu, cabai rawit bisa tumbuh baik hingga ketinggian 1.000 m dpl.

Budidaya cabai rawit relatif lebih rendah risikonya dibanding cabai besar. Tanaman ini lebih tahan serangan hama, meskipun hama yang menyerang cabai besar bisa juga menyerang cabai rawit.

Pemilihan benih cabai rawit

Pilihlah benih yang sifatnya sesuai dengan kondisi lahan masing-masing. Bila sulit didapatkan atau harganya mahal, Anda bisa menyeleksi benih cabai rawit sendiri. Benih cabai rawit bisa didapatkan dari hasil panen sebelumnya. Gunakan buah dari hasil panen ke-4 hingga ke-6. Buah yang dihasilkan pada periode panen ini biasanya memiliki biji yang optimal.

Benih yang baik mempunyai daya tumbuh hingga 80 persen. Semakin lama benih disimpan, daya tumbuhnya akan terus berkurang. Bila daya tumbuhnya kurang dari 50 persen, sebaiknya jangan gunakan benih tersebut.

Penyemaian benih cabai rawit

Siapkan polibag berukuran 5×10 cm, kemudian isi dengan media persemaian hingga 3/4 bagiannya. Media persemaian terdiri atas campuran tanah, arang sekam, dan kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Ayak terlebih dahulu bahan-bahan tersebut dan aduk secara merata.

Setelah media persemaian siap, rendam benih cabai rawit dengan air hangat selama kurang lebih 6 jam. Kemudian, masukkan benih ke polibag sedalam 0,5 cm, tutup permukaannya dengan media tanam. Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore. Bibit cabai rawit baru bisa dipindahkan ke lahan terbuka setelah berdaun 4—6 helai atau kira-kira berumur 1 hingga 1,5 bulan.

Baca Juga:  Cara Memperbaiki Mutu Buah Belimbing Demak

Pengolahan tanah dan penanaman

Pengolahan tanah diawali dengan mencangkul atau membajak lahan sedalam 40 cm. Kemudian, buat bedengan dengan lebar 100—110 cm dengan tinggi 30—40 cm dan panjang mengikuti kondisi lahan. Jarak antar bedengan, yaitu 60 cm. Campurkan pupuk organik, berupa kompos atau pupuk kandang sebanyak 15—20 ton/ha. Bila tanahnya kurang subur, bisa juga ditambahkan urea, SP36, dan KCl secukupnya.

Anda bisa menggunakan mulsa dari jerami untuk menghemat biaya. Untuk itu, perlu pengawasan lebih agar pemakaian jerami tidak mengundang hama dan penyakit. Buat lubang tanam dengan jarak 50—60 cm. Lubang tanam dibuat dua baris dalam satu bedengan dengan jarak antarbaris 60 cm. Pembuatan lubang dibuat zig-zag tidak sejajar.

Perawatan budidaya cabai rawit

Penyiraman diperlukan saat musim kemarau saja. Bila konsidisi terlalu kering, tanaman cabai rawit bisa mati. Pemupukan susulan ditambahkan setelah tanaman berumur 1 bulan sejak bibit ditanam. Selanjutnya, berikan pemupukan susulan setiap habis panen.

Bisa menggunakan pupuk organik cair atau kompos. Berikan pupuk cair yang telah diencerkan sebanyak 100 ml untuk setiap tanaman. Sementara, pupuk kompos sebanyak 500—700 gram. Bisa juga ditambahkan urea dan NPK sebagai pupuk tambahan.

Hama dan penyakit

Tanaman cabai rawit sebenarnya agak tahan terhadap serangan hama. Namun, bukan berarti kebal sama sekali. Hama yang bisa menyerang antara lain aphid, lalat buah, kepik, dan lain-lain.

Sementara, penyakit yang biasa menyerang tanaman cabai rawit adalah patek, kerdil, keriting daun, dan busuk buah. Penyakit yang menyerang cabai kebanyakan terjadi saat musim hujan, terutama pada curah hujan tinggi.

Pemanenan cabai rawit

Cabai rawit sudah mulai berbuah dan bisa dipanen setelah berumur 2,5—3 bulan sejak bibit ditanam. Periode panen bisa berlangsung selama 6 bulan bahkan lebih. Umur tanaman cabai rawit bisa mencapai 24 bulan. Frekuensi panen pada periode masa panen tersebut bisa berlangsung 15—18 kali. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Caranya dengan memetik buah beserta tangkainya.

Baca Juga:  Jamur Milik Indonesia Ini Termahal di Dunia
loading...
loading...