Tren dan Tantangan Sektor Agribisnis

Sektor pertanian memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional. Pada masa pandemi COVID-19 yang masih berlangsung hingga saat ini, sektor pertanian justru masih menjadi sumber pertumbuhan ekonomi unggulan. Peluang agribisnis akan makin terbuka lebar dengan pemanfaatan teknologi di era digital seiring perkembangan zaman. Inilah yang coba diangkat oleh Trubus Bina Swadaya (TBS) Grup melalui talkshow “2022: Peluang dan Tantangan Agribisnis” yang disiarkan secara live di www.trubusexpo.com.

peluang agribisnis

Arief Darjanto, Dekan Sekolah Vokasi IPB University dan Adjunct Professor Business School IPB University, menyebutkan, sektor pertanian telah menjadi penyelamat perekonomian dari masa krisis, tidak hanya di masa pandemi COVID19, tetapi juga sejak krisis ekonomi yang melanda Asia pada 1998.

“Sebagaimana kita ketahui, di masa krisis ekonomi di Asia pada 1998, sektor pertanian menjadi penyelamat. Begitu juga di era pandemi COVID-19. Pertanian ini memang memiliki peranan strategik di dalam perekonomian Indonesia,” tutur Arief pada talkshow bertajuk “2022: Peluang dan Tantangan Agribisnis” di Trubus Expo, Rabu (26/01).

Meskipun begitu, sektor agribisnis erat kaitannya dengan tren, tantangan, dan faktor-faktor penentu agribisnis. Tren ke depan sektor pertanian atau agribisnis ini antara lain demografi dan tren pendapatan, pola konsumsi dan tren yang muncul, perkembangan teknologi, perubahan iklim, limbah makanan, serta persaingan mendapatkan sumber daya alam.

“Dengan kenaikan pendapatan per kapita dan juga urbanisasi yang berjalan sangat cepat, itu akan mempengaruhi kinerja agribisnis ke depan. Dan dengan adanya daya beli yang meningkat atau pendapatan per kapita yang meningkat, akan terjadi pergeseran konsumsi pangan berbasis karbohidrat ke pangan berbasis high value commodity,” jelas Arief.

Pada kesempatan yang sama, Business Development Manager PT Laris Manis Utama, Vendi T. Suseno, menjelaskan, ada perubahan pada karakteristik pembeli di pasar domestik dan ekspor. Perubahan tersebut terjadi karena adanya perkembangan teknologi dan kejadian pandemi COVID-19.

Baca Juga:  Terapkan Pola Kemitraan, Petani Tembakau di Blora Untung

“Semakin ke sini konsumen itu memandang produk agribisnis bukan dari sisi pricing. Kalau kita melihat 2019, orang akan lebih cenderung tertarik di sisi diskon,” ungkap Vendi.

Vendi melanjutkan, sejak pandemi, konsumen justru lebih memilih buah yang dapat menjadi sumber vitamin dibanding produk vitamin/suplemen jadi. Pasalnya, selama pandemi kondisi imun tubuh harus kuat dan buah dapat menjadi solusi yang alami untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Sementara itu, Founder Javara, Helianti Hilman menjelaskan, pada tahun kemarin telah terjadi perubahan tren permintaan. Biasanya, ekspor lebih mendominasi permintaan terhadap produk-produk Javara, tetapi di 2021, justru permintaan domestik yang lebih mendominasi.

“Sebenarnya, 2015 itu Javara 80 persen komposisi itu ekspor, 20 persennya itu domestik. Tetapi 2021, itu trennya sudah berbalik. Justru dominasi dari domestik itu cukup tinggi 60 persen. Artinya apa, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap makanan sehat, organik, dan apresiasi terhadap brand lokal sudah meningkat pesat,” terang Helianti.

Senada degan Helianti, Founder Julie Mango, Juliana, mengatakan, kondisi pasar untuk buah mangga sebenarnya bagus. Hanya saja, belakangan ini produsen kerap mengalami hambatan karena perubahan iklim yang dapat menyebabkan gagal panen.

“Saya lihat untuk pasar mangga akan selalu naik. Cuma kendala kita saat ini adalah karena perubahan iklim. Seperti tahun kemarin, kita mengalami kesulitan untuk panen, panennya sedikit, itu karena perubahan iklim,” papar Juliana.

Selain itu, selama pandemi harga kontainer untuk mengirim komoditas ke luar negeri mengalami kenaikan yang signifikan. Tentunya, hal ini membuat para pelaku bisnis gundah karena ongkos kirim semakin meningkat.

“Selama pandemi saya rasa semua teman tahu harga kontainer naik pesat, terutama ke Eropa dan ke Amerika. Dan itu kenaikannya bisa mencapai antara 300–480 persen. Jadi, dari awal kami menyadari pentingnya membangun portofolio pasar. Artinya, tidak menitikberatkan pasar pada satu buah pasar, misalnya ekspor semua atau domestik semua, kombinasi tetap kita perlukan untuk menjaga risiko,” terang Helianti.

Baca Juga:  Kementan Minta Pemda Proteksi Harga TBS Pekebun

Peluang agribisnis

Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura Dr. Ir. Retno Sri Hartati Mulyandari, M.Si, menyebutkan, ekspor hortikultura menunjukkan posisi yang sangat baik dan mengalami kenaikan. Pada periode Januari—November 2020 tercatat ekspor sebesar US$584,76 juta, sedangkan pada 2021 di periode yang sama mencapai US$647,34 juta.

“Bicara peluang hortikultura di 2022, tentunya kita harus flashback ke 2021. Ekspor hortikultura menunjukkan posisi yang sangat baik. Berarti potensi untuk produk hortikultura ini diminati tidak hanya pasar dometik, tetapi juga pasar global, khususnya untuk produk hortikultura Indonesia,” tutur Retno saat menyampaikan bahan presentasi Dirjen Hortikultura pada acara “2022: Peluang dan Tantangan Agribisnis” di Trubus Expo, Rabu (26/01).

Lebih lanjut, Kementerian Pertanian menjabarkan tantangan dan strategi hortikultura di masa pandemi COVID-19. Adapun tantangan yang dihadapi terkait akses pasar, distribusi, harga, kehilangan hasil, dan perubahan life style (gaya hidup). Sementara itu, strategi yang dirumuskan oleh Kementan meliputi pengembangan hortikultura terintegrasi, modernisasi hortikultura melalui digitalisasi, fasilitasi jaminan akses pasar, dan penguatan UMKM.