Trik Meningkatkan Harga Jual Lada yang Merosot Tajam

Pertanianku — Lada atau the king of spice merupakan raja rempah-rempah yang ditemukan sejak puluhan abad yang lalu. Lada termasuk salah satu komoditas perkebunan dengan tingkat permintaan yang cukup tinggi dengan harga mahal. Namun, kondisi tersebut tidak selalu bertahan. Terkadang, petani lada harus menerima kenyataan harga jual lada jatuh.

harga jual lada
foto: Pixabay

Dalam lada terkandung senyawa kimia piperin, piperanin, dan chavicin yang dapat menimbulkan sensasi pedas dan hangat di dalam tubuh. Selain itu, lada juga mengandung senyawa minyak atsiri yang bersifat volatile atau mudah menguap seperti minyak terpen yang mampu melepaskan aroma khas dari lada.

Senyawa volatile lainnya yang ada di dalam lada ialah senyawa kimia dari gugus ester dan senyawa turunan asam lemak seperti heksanal, nonenal, dan non-edienal serta monoterpen. Senyawa tersebut digunakan sebagai aromaterapi. Aroma yang dilepaskan oleh lada bisa memberikan efek menenangkan perasaan ketika terhirup ke dalam sistem pernapasan.

Peneliti Balai Besar Litbang Pascapanen, Hernani menjelaskan, lada yang berbau menyimpang (off flavor) bisa diolah kembali atau reproses secara aman dan tidak membahayakan kesehatan tubuh manusia. Reproses tersebut berguna untuk mengamankan harga jual lada yang sedang jatuh.

Proses ini tidak begitu sulit untuk dilakukan dan bisa dilakukan di tingkat petani dengan peralatan yang sederhana.

Biji lada yang dipanen dibagi menjadi 2 jenis produk, yaitu lada hitam dan lada putih. Lada hitam merupakan buah lada segar yang dipanen, kemudian dikeringkan bersamaan dengan kulit buahnya. Sementara itu, lada putih merupakan buah lada segar yang diproses dengan perendaman air, pengupasan kulit buah, pencucian biji, dan dilanjutkan dengan proses pengeringan menggunakan sinar matahari atau mesin pengering.

Baca Juga:  Langkah Mudah Menanam Lengkeng Matalada di Lahan dan Pot

Lada putih memiliki rasa yang lebih pedas dibandingkan lada hitam. Namun soal rasa, lada hitam lebih kaya dan kompleks dibandingkan lada putih.

Balai Besar Litbang Pascapanen (BB Pascapanen) memiliki teknologi proses penanganan ulang atau reproses untuk lada putih. Teknologi pengolahan ini dilakukan dengan menggunakan uap panas yang bersuhu 90°C hingga 100°C selama 30 hingga 60 menit.

Proses pembuatan ulang tersebut hanya menggunakan alat kukusan dapur untuk mengukus lada putih dengan kondisi air sudah mendidih sempurna dan api konstan. Selanjutnya, lada dijemur di bawah matahari atau menggunakan mesin pengering (oven) pada suhu sekitar 50—60°C hingga kadar air di dalam biji lada di bawah 10 persen.

Penguapan tersebut berhasil memperbaiki mutu fisik, menurunkan kontaminan mikroba, menekan bau yang menyimpang, dan meningkatkan kualitas biji lada. Reproses ini dapat meningkatkan kualitas biji lada putih sehingga diharapkan harga jualnya juga bisa meningkat.