Tumpang Sari Kedelai, Jagung, dan Cabai di Lahan Kering

Pertanianku — Lahan kering di Desa Binangun Kabupaten Blitar, Jawa Timur kerap dijadikan lahan berladang pada musim hujan. Suyanto, salah seorang penangkar kedelai dari kelompok tani Karya Tani menjelaskan bahwa petani di daerahnya sudah terbiasa menanam dengan pola tumpang sari.

tumpang sari
foto: Pertanianku

Menurut Suyanto menanam tiga komoditas di dalam satu lahan memerlukan jeda tanam antara satu komoditas dan komoditas berikutnya.

“Saat tanaman jagung berumur 20 hari, semai benih cabai yang sudah tumbuh malai dipindahkan di antara tanaman jagung. Kemudian, ketika jagung telah berumur 90 hari, saatnya tanam kedelai di kanan dan di kiri cabai,” papar Suyanto seperti dilansir dari laman litbang.pertanian.go.id.

Pada tahun ini Suyanto menggunakan varietas kedelai Dega 1 dan Anjasmoro. Kedua varietas kedelai tersebut memang sudah sering dipilih oleh para petani kedelai karena keunggulannya.

“Kedua varietas tersebut cukup diminati oleh petani. Alasannya, Dega 1 bijinya besar dan umurnya genjah, sedangkan Anjasmoro adaptif pada berbagai agroekologi,” imbuh Suyanto

Kedua varietas tersebut menunjukkan performa yang sangat baik ketika ditanam di lapangan. Dega 1 sudah berhasil membentuk polong, sedangkan varietas Anjasmoro telah membentuk bunga sejak awal Februari 2021.

Suyanto menginformasikan bahwa di ladang sama sekali tidak terlihat ada gulma yang tumbuh. Hal tersebut disebabkan oleh kanopi kedelai dan cabai yang tumbuh di lahan berhasil menutup permukaan tanah.

Sementara itu, dari sisi hama dan penyakit untuk kedua jenis tanaman masih terpantau aman dan relatif tidak banyak. Alhasil, sistem tanam tumpang sari ini dapat memimalisir penggunaan pestisida kimia.

Selain pestisida, petani juga tidak perlu melakukan pemupukan untuk tanaman kedelai karena pupuk sudah didapatkan dari pemupukan jagung dan cabai. Pupuk yang digunakan untuk tanaman jagung adalah urea dan phonska yang diberikan pada 20 hari setelah tanam dan 70 hari setelah tanam. Sementara itu, pupuk untuk pohon cabai adalah phonska dan ZA yang diberikan pada bulan kedua dan keempat setelah tanam.

Baca Juga:  Sentuhan Teknologi Balitbangtan untuk Meningkatkan Potensi Labangka

Sistem tumpang sari yang sudah diterapkan juga mampu menghasilkan jagung pipilan kering sebanyak 6 ton/hektare dan cabai sebanyak 12 ton/hektare. Tanaman cabai yang ditanam mampu bertahan hingga menjelang akhir musim kemarau.