Tumpang Sari Padi dan Jagung Terus Dikembangkan

Pertanianku — Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mengembangkan tumpang sari padi dan jagung secara nasional. Sistem tanam ini dinilai efektif untuk peningkatan pendapatan petani dan pencapaian swasembada pangan nasional. Hal tersebut dikatakan Kasubdit Jagung dan Serealia Lainnya, Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Andi Saleh.

tumpang sari padi dan jagung
Foto: Google Image

Tumpang sari merupakan cara meningkatkan efisiensi lahan karena dapat mengoptimalkan pemanfaatan cahaya, air, dan hara. Juga mengontrol gulma, hama dan penyakit, serta merupakan jalur menuju pertanian yang berkelanjutan. Selain itu, sistem tanam tumpang sari antarkomoditas tanaman pangan telah banyak dipraktikkan oleh petani.

Tahun ini, sistem tanam tumpang sari padi jagung dilaksanakan pada target areal seluas 350.000 hektare dari keseluruhan alokasi tumpang sari padi jagung kedelai seluas 1.050.000 hektare. Pelaksanaannya memanfaatkan komponen bantuan kegiatan tumpang sari padi jagung berupa bantuan benih. Paket bantuan yang diberikan ini nantinya hanya bersifat stimulan.

“Artinya apabila bantuan tidak mencukupi untuk menyediakan paket teknologi yang direkomendasikan Badan Litbang Kementan atau instansi lainnya, maka tambahan anggaran dapat didukung dari anggaran APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota dan atau swadaya,” papar Andi Saleh, seperti dikutip Republika, Selasa (7/5).

Bila komposisi tanaman dan jarak tanam ditata dengan tepat, hasil dari kombinasi tanaman per satuan luas lebih tinggi dari sistem monokultur. Hal ini dapat menjadi solusi dan terobosan dalam pencapaian swasembada pangan. Pola tanam tumpang sari juga meningkatkan intensitas penggunaan lahan, di mana intensitas penggunaan lahan yang tinggi berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan petani.

Jarak tanam yang digunakan padi gogo adalah 20 cm (antarbarisan) × 10 cm (dalam barisan). Sementara, jarak tanam jagung adalah 40 cm (antarbarisan) × 15 cm (dalam barisan). Jarak antara blok padi dan jagung 40 cm dengan memperhitungkan jumlah populasi tanaman dalam satu hektare.

Baca Juga:  Mentan Sebut Posisi Pangan Indonesia Semakin Baik

Populasi tanaman per hektare pada sistem tumpang sari ini menggunakan populasi rapat, dengan jumlah populasi kurang lebih 200.000 rumpun/ha untuk padi dan 80.000 batang/ha untuk jagung.

Terkait dengan waktu tanamnya, sistem tumpang sari berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif. Sifatnya lebih cepat dan dominan menguasai ruang dan lebih mampu berkompetisi dalam memperebutkan air, unsur hara, dan cahaya. Waktu tanam pada kegiatan tumpang sari padi gogo dilakukan lebih awal dengan selang waktu tiga pekan sebelum penanaman jagung.

“Apabila pola tumpang sari ini kita kelola dengan baik, saya yakin kita akan mampu menjaga ketahanan pangan nasional,” ujar Andi.

Loading...