Tutut, Hama Padi yang Jadi Bahan Pangan Murah dan Bergizi


Pertanianku — Keong sawah atau tutut awalnya dianggap hama padi hingga akhirnya dikenal sebagai makanan. Keong ini hidup ini sawah yang penuh air dan semakin banyak jumlahnya jelang padi mulai tumbuh. Pemerintah telah mengklaim tutut jadi bahan pangan murah dan bergizi.

bahan pangan murah dan bergizi
Google Image

Hewan yang masuk dalam kelompok molusca atau bertubuh lunak ini juga punya nama lain seperti keong godang, siput sawah, siput air, kraca, dan lainnya. Keong sawah akan menyantap tumbuhan yang ada di sekitarnya karena ia tinggal di area persawahan yang luas dan air yang banyak.

Sayangnya, keong sawah ini seringkali menyantap tanaman padi budidaya dibanding gulma. Maka tak heran, keong sawah kerap jadi musuh padi dan petani. Tak hanya memakannya, keong-keong ini juga seringkali memanfaatkan batang padi sebagai lokasi bertelur.

Petani seringkali kelabakan untuk mengatasi keong sawah yang perkembangannya cenderung cepat. Berbagai cara pun dilakukan, misalnya dengan melepas bebek sebagai musuh alami keong di area sawah, memungut satu per satu keong yang ada, hingga penggunaan pestisida.

Para petani juga memanfaatkannya sebagai bahan pangan untuk membantu mengurangi populasi hama keong sawah itu. Karena itu, kini keong jadi bahan pangan pilihan masyarakat karena mudah didapat, murah, dan enak.

Mengutip dari berbagai sumber, ternyata tak semua keong sawah bisa disantap. Keong sawah sendiri secara umum dibagi menjadi dua, yaitu keong yang beracun dan tak beracun. Keong sawah beracun adalah keong mas. Seperti namanya, keong ini memiliki cangkang atau rumah keong yang berwarna keemasan.

Sementara, keong sawah yang tak beracun adalah keong dengan warna cangkang yang sedikit hijau kehitaman. Keong sawah jenis inilah yang kerap disebut sebagai tutut.

Baca Juga:  Cara Cina Pulihkan Hutan Mereka yang Rusak

Masyarakat biasa mengolah keong sawah ini dengan berbagai cara, misalnya ditumis, digoreng, disayur, atau direbus. Tekstur dagingnya yang kenyal dan rasanya yang gurih dianggap jadi daya tarik keong sawah. Selain itu, kandungan gizi yang tinggi juga diklaim bisa menjadi alternatif sumber protein di masa depan.

Mengutip Persatuan Ahli Gizi Indonesia dalam buku Tabel Komposisi Pangan Indonesia (2009), dalam 100 gram keong sawah mengandung protein 12%, lemak 1%, energi 64%, air 81 persen, karbohidrat 2%, dan kalsium 217%.

loading...
loading...