Ubi Banggai, Satu-satunya Umbi yang Menjadi Makanan Pokok di Banggai Kepulauan

Pertanianku — Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) terletak di ujung Sulawesi Tengah. Kawasan ini memiliki pemandangan laut yang eksotis dan ubi khas yang sudah menjadi makanan pokok oleh masyarakat setempat, ubi tersebut bernama ubi banggai (Dioscorea).

ubi banggai
foto: Indonesia.go.id

Ubi banggai merupakan spesies endemik dari Kabupaten Banggai. Selain dijadikan makanan pokok, ubi ini juga sering digunakan sebagai tradisi oleh masyarakat setempat. Ubi banggai terbilang langka karena hanya dapat dijumpai di Pulau Banggai.

Bentuk ubi banggai mirip seperti ubi jalar dan ubi kayu, sedangkan rasanya lebih mirip pencampuran antara ubi jalar dan singkong. Ukuran ubi ini cukup besar. Masyarakat setempat biasanya mengolahnya dengan cara digoreng, direbus, dijadikan camilan, atau diolah menjadi tepung.

Tepung ubi banggai dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kue, brownis, dan panganan lain khas Bangkep. Anda bisa menjumpai kuliner tersebut pada acara ritual tradisi Banggai.

Tanaman ubi tumbuh menjalar ke atas, tidak seperti ubi rambat yang tumbuh merambat di atas tanah. Oleh karena itu, tanaman ini membutuhkan lanjaran (media membelit) agar batang ubi bisa tumbuh ke atas. Umbi tanaman berada di dalam tanah, sama seperti tanaman umbi-umbi lainnya.

Dilansir dari indonesia.go.id, ubi banggai digunakan sebagai sumber karbohidrat oleh penduduk Banggai dan Luwuk. Di Kabupaten tersebut dihuni oleh tiga suku, yakni Suku Banggai (Bangkep), Saloan (Luwuk), dan Balantak (Luwuk).

Secara morfologi, ubi ini mirip seperti ubi jawa, tetapi ukurannya relatif lebih kecil, jarak toreh pangkal daun tinggi, serta batang tanaman lebih kecil dan pendek. Permukaan ubi banggai lebih halus dan padat jika dibandingkan dengan umbi jawa.

Menurut sejarah, ubi ini dibawa oleh Raja Ternate yang terusir dan migrasi ke Banggai Kepulauan. Ubi tersebut dapat tumbuh subur di daerah tersebut karena tanah di kawasan tersebut lempung berpasir.

Baca Juga:  Manfaat Kedelai Hitam, Rajanya Protein Tanaman yang Kaya Antioksidan

Pada zaman kerajaan, ubi ini ditanam dengan ritual yang dinamakan dengan Bapidok. Hasil panen biasanya dimanfaatkan untuk kepentingan konsumsi pribadi dan kelebihannya dijual ke pasar tradisional.