Udang Windu Kembali Bangkit karena Phronima Suppa


Pertanianku Udang windu (Penaeus monodon) merupakan salah satu komoditas unggulan sektor Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pinrang. Produksi udang windu yang dihasilkan oleh pembudidaya di daerah ini sangat diminati oleh pasar mancanegara, khususnya  Jepang.

udang windu
Google Image

Maka, tak heran jika Kabupaten Pinrang memiliki obsesi untuk mengembalikan kejayaan udang windu seperti di era 1980-an. Booming udang windu yang terjadi saat itu berimplikasi pada semakin bertambahnya luas lahan tambak yang mencapai lebih dari 15.000 ha.

Keberadaan Phronima Suppa menjadi indikator bangkitnya udang windu pada kawasan yang sedang terserang virus WSSV dan V. harvey ini. Kawasan tambak yang ditemukan Phronima sp serta kawasan tambak yang sedang terjangkit WSSV berhasil memproduksi udang windu dengan sintasan sekitar 70 persen.

Sebaliknya, tambak udang windu tanpa Phronima sp hanya mampu memproduksi udang windu  dengan sintasan 10 persen. Phronima Suppa diduga kaya nutrien dan berperan penting dalam membangun sistem immunitas internal pada udang serta memperbaiki struktur tanah dan lingkungan perairan.

Berkembangnya pakan alami Phronima Suppa menjadikan Kabupaten Pinrang sebagai daerah pemasok udang windu terbesar di Sulawesi Selatan. Dimana pada 2013, produksi udang windu terbesar berasal dari Sulawesi Selatan, yaitu 2.973,2 ton, meningkat dari produksi 2012 sebesar 2.931 ton.

Sejak ditemukan pakan alami itulah yang menjadi awal kebangkitan udang windu di Pinrang. Bertambak cara tradisional di era modern ternyata membawa keberuntungan. Udang windu yang diproduksi dengan sistem modular dengan pakan alami Phronima Suppa menjadi incaran konsumen di pasar internasional. Sebab, udangnya padat, sehat, alami, dan yang paling penting ramah lingkungan.

Baca Juga:  FDA Cabut klaim Kedelai Bermanfaat untuk Jantung
loading...
loading...