Ulat Tentara, Hama Jagung yang Wajib Diwaspadai

PertaniankuUlat tentara atau fall army warm (FAW) merupakan serangga yang berasal dari Amerika Serikat hingga Argentina. Saat ini ulat tersebut sudah menjadi hama di Indonesia yang menyerang tanaman jagung pada fase vegetatif. Ulat tentara termasuk hama perusak yang wajib diwaspadai karena bisa menyerang mulai dari akar, daun, bunga jantan, bunga betina, hingga tongkol jagung.

ulat tentara
foto : Pertanianku

Ulat dewasa akan meletakkan telur-telurnya di daun bawah yang dekat dengan dasar tanaman. Satu periode bertelur ulat mampu menghasilkan 100–200 butir telur. Telur biasanya dilindungi oleh lapisan pelindung yang berasal dari bagian tubuh ngengat setelah bertelur. Apabila populasinya tinggi, ulat akan meletakkan telur di bagian tanaman yang lebih tinggi atau bahkan di tanaman lain.

Larva ulat yang masih muda akan memakan bagian permukaan bawah daun. Bagian daun yang terserang biasanya akan berwarna semitransparan. Larva ini dapat memintal benang sehingga larva bisa berpindah ketika angin berembus. Larva ulat tentara lebih aktif pada malam hari.

Setelah larva tumbuh menjadi larva instar 3–6, larva akan masuk ke bagian yang terlindungi seperti daun muda yang menggulung. Di dalam tempat perlindungan itu larva tetap melakukan perusakan sehingga calon daun tersebut berlubang. Larva juga bisa memakan titik tumbuh sehingga menghambat pertumbuhan daun baru dan tongkol.

Dalam satu tempat, biasanya hanya ditemukan 1–2 larva. Hal ini karena ulat tentara bersifat kanibal sehingga bisa memakan sesamanya ketika besar. Kanibalisme dilakukan ulat tentara untuk mengurangi kompetisi.

Ketika sudah tumbuh menjadi ngengat dewasa, serangga yang berasal dari ulat tentara merupakan penerbang yang andal. Serangga ini bisa terbang antarbenua.

Melansir dari cybex.pertanian.go.id, perkembangan ulat tentara bisa terus meningkat karena adanya tanaman inang yang dijadikan tempat berkembang biak. Selain itu, perkembangan populasi ini semakin parah saat musuh alaminya—predator—seperti semut, cecopet, dan parasitoid—serta entomopatogen di alam menurun.

Baca Juga:  Penanaman 4 Kali Setahun untuk Genjot Stok Beras di Tengah Perubahan Iklim