Upaya Pemanfaatan Air Hujan Jadi Air Minum


Pertanianku — Air merupakan salah satu sumber kehidupan yang keberadaannya sangat penting. Namun, ketersediaan air bersih masih menjadi problema sebagian besar masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil. Menilik persolan tersebut, terciptalah inovasi tentang upaya pemanfaatan air hujan jadi air minum dengan proses ionisasi terlebih dahulu.

Pemanfaatan air hujan
Foto: Google Image

Romo Vincentius Kirjito, rohaniawan yang tinggal di lereng Merapi melakukan riset dan percobaan pengolahan air hujan untuk dijadikan air minum. Penelitian Romo Kirjito menunjukkan bahwa air hujan di Indonesia memiliki kandingan mineral terlarut (Total Dissolve Solid/TDS) di bawah 20 mg/liter.

Padahal, TDS air mineral bahkan ada yang di atas angka 100. Sementara, Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menetapkan dan mematok kadar air mineral tertinggi yang boleh dikonsumsi adalah 50 mg/liter.

Menurut Romo Kirjito, berada di kawasan tropis dengan curah hujan tinggi, dikelilingi pegunungan yang jadi tangkapan air alami, dan sungai-sungai membelah pulau-pulaunya, Indonesia tak seharusnya dibayangi krisis air bersih.

“Alam menyediakan air minum berkualitas baik secara gratis, yakni air hujan,” kata Romo Kirjito saat menjadi pembicara di pertemuan yang bertajuk “Menjadikan Air Sehat sebagai Bagian dari Pemberdayaan” di Wisma Hijau, Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Menurut Romo Kirjito, masalah keasaman pH air hujan bisa diatasi dengan alat sederhana yang dibuat sendiri oleh warga.

Dalam pertemuan itu juga diperagakan teknik sederhana menjadikan air hujan yang cenderung asam jadi air basa atau alkali. Caranya, memisahkan air asam dan basa dengan arus listrik DC agar terjadi ionisasi. Arus listrik dialirkan ke konduktor stainless foodgrade pada dua bejana yang berhubungan. Keduanya berisi air hujan atau bisa dicampur air tanah selama empat jam atau lebih, tergantung kadar pH yang diinginkan.

Baca Juga:  Zona Pertanian di Kota Serang Makin Tergerus Pemukiman

“Jika hanya air hujan, karena mineral terlarutnya rendah, butuh waktu ionisasi lebih lama. Kita harus ukur kadar TDS-nya. Biasanya air yang kita sarankan di bawah 50 TDS,” kata Romo Kirjito.

Makin lama proses terionisasinya, perbedaan PH antara dua bejana itu makin tinggi, satu bejana kian basa dan satunya makin asam. Air basanya bisa langsung dikonsumsi, dan yang asam bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman.

loading...
loading...