Waduh! Harga Cabai Kembali Anjlok


Pertanianku – Di tengah gemuruhnya harga garam lokal yang kian memprihatinkan, pasokan cabai yang melimpah karena masa panen dikhawatirkan juga turut memicu anjloknya harga cabai di beberapa daerah terutama di Pulau Jawa.

Foto: pixabay

Untuk itu, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono pun melakukan tindakan antisipasi dengan menerapkan pola kemitraan antara petani dan pedagang cabai besar dan industri pengguna cabai.

“Pola kemitraan ini yang kita lakukan untuk atasi harga cabai, termasuk untuk solusi jangka panjang,” ujarnya dalam keterangannya, seperti dilansir Republika (24/8).

Bahkan, beberapa pola kemitraan mendorong dan diharapkan mampu mengatasi masalah cabai. Kemitraan tersebut di antaranya produsen bubuk cabai, produsen sambal, dan kemitraan petani langsung ke konsumen melalui Toko Tani.

“Jadi cabainya petani dibeli langsung, ada kontraknya,” ungkap sang Spudnik.

Padahal pola kemitraan juga diharapkan dapat membantu para petani andalan yang dikategorikan sebagai petani champion. Petani champion akan berkoordinasi dengan industri sehingga cabai di tingkat petani bisa terserap maksimal.

Saat ini misalnya, champion di Magelang sudah membangun kerja sama dengan industri, khususnya untuk cabai rawit merah.

“Kerja sama dilakukan antara lain dengan rumah makan dan industri kecil lainnya,” tutur Spudnik.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura, ketersediaan cabai rawit merah pada Agustus sebesar 81.864 ton, dengan kebutuhan 73.197 ton. Itu artinya ada surplus sebesar 8.667 ton.

Pada September, ketersediaan cabai diperkirakan mencapai 78.606 ton dengan kebutuhan 69.615 ton sehingga surplus 8.991 ton. Begitu juga dengan Oktober yang diprediksi surplus hingga 8.669 ton, yakni produksi mencapai 77.983 ton dan kebutuhan 69.314 ton.

“Begitu juga dengan cabai besar, produksi kita masih surplus sampai Oktober nanti,” katanya.

Baca Juga:  Dinas Peternakan NTB Terus Galakkan Penanaman Pakan Berkualitas

Ketersediaan pada Agustus untuk cabai besar mencapai 104.148 ton dengan kebutuhan 95.328 ton sehingga terjadi surplus 8.820 ton. Pada September, produksi cabai sebesar 100.378 ton dengan kebutuhan 91.469 ton dan surplus 8.904 ton.

“Sedangkan di Oktober, surplus 8.905 ton. Dimana ketersediaan 100.373 ton dan kebutuhan 91.468 ton,” ujar Spudnik.

Kementerian Pertanian juga telah mengatur manajamen tanam cabai sesuai yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 13 tahun 2010 tentang Hortikultura yang mewajibkan pemerintah pusat dan daerah menjamin ketersediaan distribusi dan pemasaran di dalam ataupun luar negeri.

Manajemen Tanam diatur dalam rangka menjaga agar ketersediaan dapat berlangsung setiap bulan dan sepanjang tahun sehingga pertanaman terjaga setiap saat. Hal ini telah disepakati bersama antara Dirjen Hortikultura dan Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam mengatur pola tanam di lapangan.

Bahkan, pada panen Agustus ini telah dirancang dan diperoleh dari luas tanam pada Mei seluas 16.878 hektare dan panen bulan September telah dirancang dan disiapkan dari areal tanam pada Juni seluas 15.976 hektare.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, juga sudah melakukan koordinasi untuk menolong petani cabai di tengah produksi yang melimpah akibat panen dan gerakan tanam cabai serentak di seluruh wilayah Indonesia.

“Kita harus bela petani seperti petani jagung, bawang merah, dan beras. Petani cabai juga Insya Allah akan kita bantu,” tegas Mentan Amran.

loading...
loading...