Potensi Pasar Bisnis Lele


Pertanianku – Sumber daya perikanan sejak lama diharapkan mampu menjadi salah satu tumpuan ekonomi di Indonesia. Hal itu tidak lepas dari pentingnya komoditas perikanan sebagai salah satu sumber gizi penting bagi masyarakat dengan harga terjangkau. Potensi lahan perikanan budi daya secara nasional diperkirakan mencapai 15,59 juta ha yang terdiri atas 2,23 juta ha perikanan air tawar, 1,22 juta ha air payau, dan 12,14 juta ha perikanan laut. Sampai saat ini, lahan budi daya yang dimanfaatkan di sektor perikanan masih terbilang kecil: perikanan air tawar (10,1%), air payau (40%), dan perikanan laut (0,01%). Salah satu komoditas perikanan budi daya yang memiliki nilai tinggi adalah lele Ini cerita 2008 lalu.

Potret Bisnis Lele

Berawal dari mengunjungi bekas kolam yang tidak terurus, Wasis Setiabudi— nama samaran, mendapat nasihat dari pemilik kolam lain yang letak lahannya bertetangga. “Pakai saja kolamnya untuk beternak lele”, saran pemilik kolam tersebut. Setahun berselang usai pensiun sebagai guru sekolah dasar di Subang, Jawa Barat, Wasis mulai serius membenamkan lele di kolam itu. Ia menebar 12.000 benih lele pada Desember 2009. Berjarak 3 bulan, akhir Maret 2010, Wasis memanen 4,5 kuintal lele senilai Rp4,5 juta. Hingga kini, dalam setahun Wasis memperoleh omzet sebanyak tiga kali lipat.

Wasis hanya sekadar contoh peternak baru yang terjun menekuni bisnis lele karena memiliki prospek. Contoh lain adalah Linda di Cilegon, Provinsi Banten. Bermodalkan Rp170 juta, mantan karyawan swasta sebuah bank swasta itu membentengi lahan seluas 1.300 m²dengan tembok semen setinggi 2 m. Di lahan itu Linda membangun 3 kolam tanah, masingmasing berukuran 5 m x 7 m dengan kedalaman 1 m. Di setiap kolam, ibu dari 1 putra itu menebar 4.000 benih lele phytonsepanjang 8—10 cm seharga Rp250,00/ekor. Benih tersebut dipelihara hingga ukuran konsumsi 7—10 ekor/kg selama 2,5 bulan pemeliharaan.

Di Sleman, D. I. Yogyakarta, ada Erlin yang menebar 14.000 bibit lele sangkuriang di kolam berukuran 48 m² pada akhir Juni 2011. Dua bulan berikutnya ayah 2 putra itu menjala 1 ton Clarias. Dengan harga jual ukuran konsumsi Rp10.500,00/kg, Erlin memperoleh pendapatan Rp10,5 juta. Setelah dikurangi biaya produksi sebesar Rp8.000,00/kg, Erlin memperoleh laba bersih Rp2,5 juta. Bukan tanpa alasan banyak peternak memilih lele.

Dengan singkatnya masa produksi, “perputaran uang juga cepat sehingga bisa menambah modal atau nafkah,” kata Wagiran, ketua Kelompok Perikanan Trunojoyo di Kulonprogo, D. I. Yogyakarta, yang hampir 70% anggotanya membudidayakan lele itu. Di Kabupaten Kulonprogo terdapat sekitar 208 kelompok perikanan. Data dari Direktorat Jenderal Perikanan Budi daya, Departemen Kelautan dan Perikanan RI, peternak pemula lele pada 2008 mencapai 637 kelompok dengan anggota 6.200 peternak.

Penyebarannya tidak terbatas di Pulau Jawa, tetapi ke daerah lain, yaitu Nusa Tenggara Barat (49 kelompok, 575 peternak), Nusa Tenggara Timur (14 kelompok, 96 peternak), Jambi (15 kelompok, 183 peternak), Riau (18 kelompok, 125 peternak), dan Kepulauan Riau (76 kelompok, 764 peternak).

Jenis yang dikembangkan adalah lele dumbo hingga sangkuriang. Lele memang selalu dibutuhkan konsumen untuk memenuhi kebutuhan gizi. Apalagi kini harga sumber protein hewani seperti daging sapi dan ayam tergolong mahal. Penyerap terbesar rumah makan kaki limaatau warung tenda yang menjamur di sepanjang jalan kota-kota besar.

Sekadar menyebutkan angka, kebutuhan D.I. Yogyakarta untuk lelemencapai 30 ton lele/hari, tetapi baru terpenuhi setengahnya. Hal yang sama juga ditemui di Jakarta (75—100 ton/hari), Malang (4—5 ton/hari), dan Batam (10 ton/hari). Pemerintah daerah Kota Batam melalui Dinas Dinas Kelautan,Perikanan, Pertanian dan Kehutanan (KP2K) bahkan berencana mengimpor lele karena kondisi kekurangan barang itu membuat harga lele di tingkat lokal melambung hinga 200%.

 

Sumber: Buku  Agriflo Lele

 

loading...
loading...