Yuk Lihat Kalender Tanam Terpadu 2016


Pertanianku – Perubahan cuaca yang tak menentu sejak akhir tahun lalu membuat banyak petani kelimpungan. Masa tanam dan panen harus berubah seiring dengan perubahan cuaca tersebut. Kalender Tanam Terpadu (Katam) kemudian sangat diharapkan menjadi acuan yang pasti.

katam

Musim penghujan yang seharusnya datang di Bulan Oktober akhir tahun lalu tiba-tiba dihadang El Nino. Alhasil, musim hujan datang terlambat. Kemarau terjadi berkepanjangan. Hingga Bulan Januari, menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), zona hujan Indonesia belum terjadi secara menyeluruh. “Hingga kini baru 89,8% zona yang memasuki musim penghujan,” ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Yunus Subagyo, dirilis dari Republika.

Sebaliknya, musim kemarau yang biasanya datang pada bulan April-September diprediksi akan memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Hal itu disebabkan adalnya La Nina yang akan memperpanjang musim penghujan. Menurut BMKG El Nino diprediksi baru akan berakhir pada April-Mei. Sementara La Nina akan mulai mengancam sejak bulan Juli hingga September.

Perubahan musim akibat El Nino dan La Nina ini tentu merubah total kalender tanam terpadu di tahun 2016 ini. Sejak dirilis tahun 2012, Kalender Tanam Terpadu (Katam) diharapkan mampu menjadi acuan yang tepat dan cepat bagi para petani. Dengannya, petani dapat menyesuaikan cuaca dan iklim saat menanam benih sehingga mampu meminimalisasi kegagalan panen.

Sistem kalender yang dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian, Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN), dan BMKG ini memuat informasi waktu tanam dengan memperhatikan tingkat curah hujan hingga tingkat kecamatan. Pertanian jenis padi, jagung, dan kedelai menjadi prioritas utama dikembangkannya kalender tanam terpadu tersebut. “Informasi ini (Kalender Tanam Terpadu) sangat penting untuk mengantisipasi kegagalan produksi padi, jagung, dan kedelai akibat kekeringan ataupun serangan hama dan penyakit tanaman yang diakibatkan adanya perubahan iklim,” ujar Kepala Balitbang Pertanian Kementan, Haryono, dikutip dari Kompas.

Baca Juga:  Kementan Bangun Kawasan Pertanian Modern Serpong

Untuk mendapatkannya, Kalender Tanam Terpadu tersebut dapat diakses melalui portal www.litbang.pertanian.go.id. Kalender Tanam Terpadu ini juga dapat diperoleh dalam bentuk fisik di BP3K tiap kecamatan. Untuk versi digital, Katam juga tersedia dalam aplikasi berbasis Android yang dapat diunduh gratis melalui https://play.google.com/store/apps/details?id=som.litbang.katamterpadu. Saat ini pun telah tersedia Kalender Tanam Terpadu dalam bentuk website di laman http://katam.info.

Sejak tahun 2014 lalu, Kalender Tanam Terpadu ini diperbarui dua kali setahun sesuai musim. Kalender Tanam Terpadu Musim Hujan terbit pada periode Oktober-Maret, sedangkan Kalender Tanam Terpadu Musim Kemarau terbit pada periode April-September. Keduanya menginformasikan tiga musim tanam secara lengkap. Akhir tahun 2015 lalu merupakan momen peluncuran Kalender Tanam Terpadu versi terbaru. “SI Katam  (Sistem Informasi Katam-red) Terpadu versi 2.1 merupakan versi mutakhir untuk musim kemarau 2015 yang mengalami beberapa penyesuaian,” ujar Haryono via antara.

Sayangnya, Kalender Tanam Terpadu ini masih minim sosialisasi. Kecanggihan sistem tersebut pun belum mampu dimanfaatkan beberapa petani yang tak melek teknologi. Selain itu, kendati Balitbang Kementan menjanjikan kemutakhiran data pada Kalender Tanam Terpadu tersebut, beberapa pihak menilai lambannya pembaruan data terutama di saat yang sangat dibutuhkan seperti sekarang.

Guru Besar Agrometeorologi da Geofisika Institut Pertanian Bogor, Yonny Koesmaryono, berharap Kementerian Pertanian dan BMKG dapat selalu memperbarui data cuaca dengan cepat dan segera. Dengannya, masa kalender tanam dan panen dapat ditentukan dengan pasti. “Peringatan ini harus segera dilakukan untuk meminimalisasi gagal panen bagi petani,” kata Yonny dilansir okezone.

loading...
loading...