Yuk, Lihat Penampakan Ikan Hiu Langka di Indonesia


Pertanianku – Belum lama ini media sosial dihebohkan oleh sebuah video yang merekam ikan hiu langka “mulut besar” atau Megamouth. Video tersebut direkan oleh seorang penyelam di pantai Indonesia. Penyelam asal Inggris, Penny Bielich, saat itu tengah berada di Gili Lawa Laut, Pulau Komodo, ketika seekor hiu langka melewatinya.

Heikki Innanen, rekan Bielich, mengatakan padanya bahwa dia harus segera mengambil kamera. Video tersebut terekam dengan durasi sekitar 26 detik. “Suatu keistimewaan bisa melihat makhluk megah ini dengan Heikki Innanen, hanya 63 penampakan yang pernah ada! 64 sekarang,” tulis Ms. Bielich di akun Instagram-nya.

Dalam rekaman tersebut, tampak hiu itu tak terganggu dengan kehadiran Bielich. Hiu Megamouth adalah makhluk yang sulit dipahami meski ilmuwan pernah menemukan 102 spesimen mereka. Seperti mengutip Daily Mail, kebanyakan hiu ini terlihat di Jepang, Filipina, dan Taiwan. Megamouth pertama kali terlihat pada 1976 saat tak sengaja tertangkap jangkar laut dalam di Hawai.

Hiu tersebut konon bisa mencapai panjang maksimal, yakni 17 kaki atau sekitar 5 meter dengan masa hidup hingga 100 tahun. Spesies itu bisa menyelam sedalam 525 kaki (160 meter) di bawah air pada siang hari sebelum naik untuk mencari makan di kedalaman 40 kaki (12 meter) pada malam hari.

Mereka berenang dengan mulut besar terbuka untuk menangkap mangsa, menyaringnya melalui lapisan dalam insang. Mangsa empuknya adalah hewan planktonik seperti udang krill.

Meski Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) memasukkan mereka sebagai hewan yang paling tidak memprihatinkan, manusia masih sedikit mengetahui tentang hiu tersebut. Ilmuwan percaya bahwa hiu ‘mulut besar’ bisa tinggal sekitar 1.500 meter di bawah permukaan laut.

Baca Juga:  Dahulu Telur Burung Berwarna Hijau Kebiruan, Mitos atau Fakta?

“Diketahui hanya dari 102 spesimen (per Agustus 2015), dan oleh karena itu tampaknya sangat jarang ditemui, namun kemungkinan akan semakin banyak diambil sebagai tangkapan samudra di perikanan lepas pantai dan offshore,” ungkap IUCN.

loading...
loading...