Sorgum Berpotensi Menjadi Alternatif Pengganti Gandum

Pertanianku — Sebanyak 11 juta ton kebutuhan gandum di Indonesia masih diimpor dari luar negeri. Ketika perang antara Rusia dan Ukraina pecah, pasokan gandum tertahan sehingga produksi bahan pangan terhambat. Oleh karena itu, kini banyak solusi untuk mencegah kondisi tersebut kembali terjadi, salah satunya mengganti gandum dengan bahan alternatif lain seperti sorgum.

sorgum
foto: pixabay

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) untuk memproduksi tanaman sorgum hingga jagung. Produksi tersebut bertujuan mengurangi impor gandum yang jumlahnya dinilai masih terlalu besar. Padahal, sebenarnya, gandum bisa diganti dengan singkong, sagu, ataupun sorgum. Ketiga tanaman tersebut dapat tumbuh subur di Indonesia.

Melansir dari Indonesia.go.id, sebagai langkah awal, Presiden Jokowi mengajak Kadin membantu produksi sorgum di lahan seluas 10 hektare. Presiden juga menyarankan untuk menanam jagung. Saat ini impor jagung di Indonesia juga masih cukup besar mencapai 800 ribu ton. Itu sebabnyak Presiden Jokowi meminta bantuan Kadin agar Indonesia bisa sepenuhnya lepas dari ketergantungan impor komoditas tersebut.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (2019–2020), jumlah produksi sorgum mencapai 4.000–6.000 ton per tahun. Produksi sorgum tersebar di lima provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan data Direktorat Budi Daya Serelia, pada 2019, produksi sorgum di Indonesia mengalami kenaikan dalam kurun waktu lima tahun terakhir dari 6.114 ton menjadi 7.697 ton.

Beberapa literatur menyebutkan, sorgum mengandung zat besi yang lebih tinggi dibanding serealia lainnya seperti beras, singkong, dan gandum. Kandungan zat besi sorgum mencapai 5,4 mg/100 g.

Persiden Jokowi sangat serius untuk mengembangkan manfaat tanaman pangan ini. Presiden bahkan telah meminta jajarannya untuk membuat roadmap atau peta jalan terkait produksi dan hilirisasi sorgum hingga 2024.

Baca Juga:  Buah Tomat Tanpa Biji

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerangkan, hingga saat ini realisasi pengembangan sorgum masih sekitar 4.355 hektare. Pengembangan tersebut tersebar di enam provinsi dengan hasil produksi mencapai 15.243 ton. Target musim sasaran tanam pada 2022 sebesar 15.000 hektare.

“Presiden minta diprioritaskan untuk daerah Nusa Tenggara Timur di Kabupaten Waingapu yang kemarin sudah dilihat. Tahun 2023 dipersiapkan lahan sejumlah 115.000 hektare dan di 2024 sebesar 154.000 hektare,” ungkap Airlangga.