Penyebarluasan Informasi Iklim untuk Mendukung Budidaya Hortikultura

Pertanianku — Kementerian Pertanian sedang mengembangkan program strategis prioritas berupa Kampung Hortikultura. Saat ini sudah terdapat 1.345 Kampung Hortikultura yang tersebar di 31 provinsi. Salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan program tersebut adalah informasi iklim. Oleh karena itu, penyebarluasan informasi iklim sangat dibutuhkan oleh petani, penyuluh, dan masyarakat umum yang tertarik dengan budidaya hortikultura dan pertanian.

budidaya hortikultura
foto: pertanianku

Informasi mengenai iklim perlu dikembangkan dengan teknologi agar informasi lebih mudah tersebar dan didapatkan oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Bertindak cerdas, tepat, dan cepat dalam mencapai kinerja yang lebih baik (maju), mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki (mandiri), serta memanfaatkan kekinian teknologi (modern),” ujar Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, seperti dikutip dari laman hortikultura.pertanian.go.id.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Inti Pertiwi, menjelaskan, dalam pengembangan Kampung Hortikultura terdapat kebijakan operasional perlindungan tanaman hortikultura yang dilakukan dengan beberapa pendekatan. Misalnya, pendekatan sistem PHT (Pre-emtif dan Kuratif) berupa gerakan pengendalian OPT, penerapan PHT, penguatan kelembagaan-Klinik PHT, serta penanganan DPI.

Inti melanjutkan, dampak perubahan iklim terhadap tanaman hortikultura antara lain perubahan pola curah hujan dan sifat hujan, peningkatan suhu udara dan permukaan air laut, serta peningkatan suhu udara yang dapat memicu kekeringan.

“Walaupun perubahan iklim tidak bisa dihindari dan dampaknya pasti akan terjadi, namun kita dapat meminimalkan dampak perubuahan iklim tersebut menjadi suatu proses yang diadaptasi,” ungkap inti.

Beberapa strategi yang perlu dilakukan untuk menyikapi perubahan ikim adalah antisipasi, adaptasi, dan mitigasi.

“Pada aspek pemanfaatan informasi yang sudah dilakukan oleh Ditjen Hortikulutra, tercatat bagaimana dapat memprediksi dampak perubahan iklim yang akan terjadi pada dua sampai tiga bulan ke depan serta memberikan rekomendasi kepada Direktorat Teknik untuk mengantisipasi hal yang akan terjadi dan diakibatkan oleh perubahan iklim. Adapun data selengkapnya dapat diakses melalui portal web www.bmkg.go.id dan www.balitklimat.litbang.pertanian.go.id,” papar Inti.

Baca Juga:  Umur Panen Cabai yang Tepat

Pakar dari Universitas Gadjah Mada, Andi Trisyono, menjelaskan, tanaman bawang merah dan cabai merupakan komoditas hortikultura yang dapat mengalami kerusakan karena perubahan iklim.

Perubahan iklim dapat diatasi dengan beberapa cara yang berkesinambungan, seperti monitoring, model development, modified ipm practices, dan pest management in changing climate.

“Monitoring itu tetap penting, tentunya dengan teknologi saat ini kita bisa memasang sensor agar dapat terus memantau suhu, kelembapan, dan faktor lainnya dalam pengelolaan secara realtime. Oleh sebab itu, perlu dikembangkan model yang bisa digunakan modifikasi, praktek-praktek pengelolaan hama khususnya dikaitkan dengan permasalahan iklim,” terang Andi.

Pada dasarnya iklim bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi pola distribusi. Namun, iklim adalah komponen yang memiliki ketersediaan data yang cukup tinggi untuk mengestimasikan potensi pola persebaran OPT.